Rabu, 14 Mei 2014

Apakah arti hidup dan tujuan hidup manusia?

1. Kata pengantar dari tujuan-tujuan hidup atau arti hidup

Kerap kali kita mendengar pertanyaan klise tentang ‘Apa arti dari hidup?’ atau ‘Apakah tujuan hidup itu?’ atau ‘Kenapa kita dilahirkan? Dalam kebanyakan kasus, kita memiliki agenda masing-masing tentang apa yang menjadi tujuan-tujuan dalam hidup kita. Namun dari sudut pandang spiritual, terdapat dua alasan dasar tentang mengapa kita dilahirkan. Alasan-alasan inilah yang mendefinisikan tujuan hidup kita yang paling mendasar. Tujuan-tujuan ini adalah:
  • Untuk menyelesaikan akun/ perhitungan-perhitungan memberi-dan-menerima (give-and-take account/ Karma) yang kita miliki dengan berbagai orang.
  • Untuk membuat kemajuan spiritual dengan tujuan akhir bersatu dengan Tuhan dan dengan demikian keluar dari siklus kelahiran dan kematian.

2. Menyelesaikan akun memberi-dan-menerima (karma) kita

Dalam kehidupan-kehidupan, kita mengakumulasi banyak akun-akun memberi-dan-menerima yang merupakan hasil langsung dari perbuatan dan tindakan kita. Akun-akun tersebut mungkin berupa positif atau negatif, tergantung sifat positif-negatif dari tindakan-tindakan kita tersebut. Pada hakekatnya, dalam era/ kurun saat ini sektiar 65% dari kehidupan kita telah ditakdirkan (tidak berada dalam kendali kita) dan 35% dari kehidupan kita diatur oleh kehendak bebas kita sendiri. Semua peristiwa-peristiwa besar dalam hidup kita telah ditakdirkan. Peristiwa-peristiwa ini termasuk kelahiran kita, keluarga di mana kita dilahirkan, orang yang kita nikahi, anak-anak yang kita miliki, penyakit serius dan waktu kematian kita. Kebahagiaan dan rasa sakit yang kita berikan dan terima dari orang-orang yang kita cintai dan kenali merupakan bentuk sederhana dari kasus akun-akun memberi-dan-menerima sebelumnya yang mengarahkan bagaimana hubungan-hubungan antar sesama terungkap.
 
 
Bagaimanapun, takdir kita dalam kehidupan saat ini hanyalah merupakan sebagian kecil dari akumulasi akun memberi-dan-menerima yang telah kita kumpulkan dalam banyak kehidupan
Dalam kehidupan kita, sembari kita menyelesaikan akun memberi-dan-menerima serta takdir yang diperuntukkan kehidupan tertentu kita, pada saat yang sama kita juga akhirnya membuat lebih banyak akun-akun dengan betindak/ berkehendak bebas. Hal ini pada akhirnya ditambahkan ke dalam keseluruhan akun memberi-dan-menerima, yang dikenal sebagai akun akumulasi. Sebagai hasilnya, kita harus terlahir kembali untuk melunasi akun-akun memberi-dan-menerima lebih lanjut dan terjebak dalam siklus kelahiran dan kematian.
Lihat ke artikel tentang ‘Pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian’ karena ini menjelaskan bagaimana kita terjebak dalam siklus kelahiran dan kematian.

3. Membuat kemajuan spiritual (tujuan hidup atau arti hidup sesungguhnya)

Puncaknya dalam perkembangan spiritual di semua Jalan Spiritual adalah menyatu dengan Tuhan. ‘Menyatu' dengan Tuhan berarti mengalami Kesadaran Tuhan di dalam diri kita dan di sekitar kita serta tidak mengidentifikasi diri dengan ke lima indera, pikiran dan intelek. Penyatuan ini terjadi pada tingkat pencapaian spiritual 100%. Kebanyakan orang di dunia saat ini berada pada tingkat spiritual 20-25% dan segan dalam melakukan suatu praktik spiritual untuk mengembangkan spiritualnya. Mereka juga mengidentifikasikan diri mereka dengan ke 5 indera, pikiran dan intelek. Hal ini tercermin dalam kehidupan kita dimana fokus utama kita terletak pada penampilan kita atau bersikap sombong tentang kepintaran atau kesuksesan kita.
Dengan melakukan praktik spiritual, ketika kita tumbuh ke tingkat pencapaian spiritual 80%, kita terbebas dari siklus kehidupan dan kematian. Setelah tingkat pencapaian spiritual ini, kita dapat melunasi apapun yang tersisa dari akun-akun memberi-dan-menerima kita, dari alam-alam non-fisik/ halus Mahārlok ke atas. Namun terkadang, orang-orang di atas tingkat pencapaian spiritual 80% bisa saja memilih untuk dilahirkan di Bumi untuk membimbing umat manusia dalam Spiritualitas.
Pertumbuhan spiritual hanya mungkin terjadi melalui praktik spiritual yang sesuai dengan ke enam prinsip-prinsip dasar dari praktik spiritual. Jalan-jalan spiritual yang tidak sesuai dengan keenam prinsip-prinsip dasar dari praktik spiritual menyebabkan stagnasi dalam pertumbuhan spiritual seorang individu.
Lihat ke artikel tentang Pentingnya planet Bumi untuk bisa melalukan praktik spiritual dibandingkan dengan alam-alam spiritual lainnya seperti surga dan neraka.

4. Apa yang dimaksud dalam hal ini mengenai tujuan hidup/ arti hidup kita?

Sebagian besar dari kita memiliki tujuan hidup/ arti hidup masing-masing. Tujuan – tujuan hidup ini mungkin menjadi seorang dokter, menjadi kaya dan terkenal atau mewakili Negara dalam bidang tertentu. Apapun tujuannya, bagi sebagian besar dari kita, lebih banyak tujuan tersebut lebih dominan keduniawiannya. Sistem-sistem pendidikan kita yang ada telah tertata untuk membantu kita mengejar tujuan-tujuan duniawi itu. Sebagai orang tua kita juga menanamkan tujuan hidup duniawi yang sama pada anak-anak kita dengan mendorong mereka untuk belajar dan masuk dalam profesi-profesi yang memberikan mereka manfaat keuangan lebih banyak dibandingkan dengan profesi kita sendiri.
Seseorang mungkin bertanya, “Bagaimanakah memiliki tujuan – tujuan hidup duniawi ini bisa sejalan dengan tujuan hidup spiritual dan alasan untuk kelahiran kita di Bumi?”
Jawabannya cukup sederhana. Kita berjuang untuk tujuan-tujuan duniawi terutama untuk mencari kepuasan dan kebahagiaan. Upaya untuk mencapai ‘kebahagiaan puncak dan kekal’ tersebut pada hakekatnya merupakan apa yang mendorong semua tindakan kita. Namun, setelah kita mencapai tujuan-tujuan duniawi kita, kebahagiaan dan kepuasaan yang dihasilkan hanya bertahan sebentar/ singkat, kemudian kita mengejar mimpi selanjutnya untuk diraih.
‘Kebahagiaan yang puncak dan kekal’ hanya dapat dicapai melalui praktik spiritual yang sesuai dengan ke enam prinsip-prinsip dasar dari praktik spiritual. Wujud kebahagiaan tertinggi yaitu Bliss (Kebahagiaan abadi) merupakan aspek dari Tuhan. Ketika kita bersatu denganNya, kita pun merasakan Bliss yang terus menerus.
Ini bukan berarti bahwa kita harus meninggalkan apa yang kita lakukan dan hanya fokus pada praktik spiritual. Apa yang dimaksud adalah hanya dengan melakukan praktik spiritual bersamaan dengan kehidupan duniawi, barulah kita dapat mengalami kebahagiaan yang puncak dan kekal dalam arti sebenarnya. Manfaat-manfaat dari praktik spiritual telah kita diskusikan secara terperinci dalam bab tentang ‘Praktik spiritual untuk kebahagiaan yang kekal’
Singkatnya, semakin tujuan – tujuan hidup kita berselaras dengan pesatnya perkembangan spiritual, semakin hidup kita menjadi kaya dan semakin sedikit rasa sakit yang kita alami dari hidup ini. Berikut ini adalah contoh dari bagaimana pandangan dalam tujuan hidup/ arti hidup kita berubah sejalan dengan berkembang dan matangnya kita secara spiritual.

5. Contoh dari bagaimana kehidupan duniawi dapat selaras dengan tujuan-tujuan spiritual

Di SSRF, kami memiliki sejumlah relawan yang melayani Tuhan dengan mempersembahkan waktu dan pengalaman kerja mereka. Contohnya:
  • Salah satu anggota kami adalah seorang konsultan IT dan menjalankan aspek-aspek teknikal dari situs SSRF pada saat waktu luangnya.
  • Salah satu anggota dari tim redaksi adalah seorang psikiater dan membantu dalam memeriksa informasi yang dimuat dalam situs SSRF dari sudut pandang arti medis dan spiritualnya.
  • Anggota SSRF lainnya bepergian ke negara-negara berbeda saat bekerja. Dia mengunakan waktu luangnya untuk memberitahu organisasi-organisasi dengan visi sama di negara itu tentang situs SSRF.
  • Ibu rumah tangga membantu menyiapkan hidangan ringan untuk pertemuan-pertemuan spiritual.
Anggota-anggota dari SSRF telah melihat suatu lompatan perubahan positif dalam kehidupan mereka ketika mereka mengenalkan spiritualitas dalam sepanjang hidup mereka. Salah satu perbedaan utama tersebut adalah peningkatan dalam kebahagiaan dan berkurangnya kesedihan. Walaupun ketika anggota-anggota SSRF menghadapi sebuah situasi yang seharusnya menyakitkan atau traumatis, mereka mendapatkan pengalaman telah terlindungi dari rasa sakit tersebut.

6. Apa yang salah dengan dilahirkan kembali dan kembali?

Terkadang orang bepikir, “Apa yang salah dengan dilahirkan kembali dan kembali?”
Saat kita masuk lebih jauh ke Kaliyuga (Era perselisihan), yaitu era sekarang dari Alam Semesta, sebagian besar kehidupan akan dipenuhi dengan permasalahan-permasalahan dan rasa sakit. Penelitian spiritual telah menunjukkan bahwa di seluruh dunia, rata-rata manusia hanya merasa bahagia 30% dari waktunya, sedangkan 40% dari waktunya ia merasakan ketidak bahagiaan. Sisa 30% dari waktunya, seseorang tersebut berada dalam kondisi netral di mana ia tidak mengalami kebahagiaan ataupun ketidak bahagiaan. Misalnya, ketika seseorang sedang berjalan di jalan raya atau mengerjakan tugas-tugas duniawi lainnya dll, ia tidak memiliki pemikiran pemikiran bahagia atau tidak bahagia.
Alasan utama untuk hal ini adalah karena kebanyakan orang berada pada tingkat pencapaian spiritual yang lebih rendah. Maka dari itu, keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan kita sering kali memberikan rasa sakit pada orang lain atau meningkatkan raja dan tama dalam lingkungan. Sebagai hasilnya, kita akhirnya mengumpulkan karma negatif atau akun-akun memberi-dan-menerima. Oleh sebab itu untuk sebagian besar umat manusia, kelahiran-kelahiran selanjutnya akan lebih menyakitkan dibandingkan kehidupan saat ini.
Sementara dunia telah membuat langkah-langkah besar dalam kemajuan ekonomi, pengetahuan ilmiah dan teknik, kenyataannya kita lebih miskin dibandingkan generasi-generasi sebelumnya dalam hal kebahagiaan yang merupakan tujuan paling dasar dalam kehidupan kita.
Mengingat bahwa kita semua menginginkan kebahagiaan; faktanya kelahiran kembali dan kehidupan masa depan kita tidak akan memberikan kebahagiaan puncak dan kekal yang kita inginkan. Hanya evolusi spiritual dan bersatu dengan Tuhan akan memberikan kita kebahagiaan yang berkesinambungan dan abadi.

Rabu, 02 April 2014

<iframe src="https://mapsengine.google.com/map/embed?mid=zVuGLDH6SxyI.kr-zdnREh1TY" width="640" height="480"></iframe>

Minggu, 09 Maret 2014

Selayang Pandang tentang Minangkabau dalam Budaya

Masyarakat Minangkabau merupakan masyarakat matrilineal yang terbesar di dunia, di mana harta pusaka diwaris menerusi nasab sebelah ibu. Beberapa ahli fikir berpendapat bahawa adat inilah yang menyebabkan ramai kaum lelaki Minangkabau untuk merantau di serata Nusantara untuk mencari ilmu atau mencari kemewahan dengan berdagang. Kanak-kanak lelaki semuda 7 tahun selalunya akan meninggalkan rumah mereka untuk tinggal di surau di mana merka diajarkan ilmu agama dan adat Minangkabau. Apabila remaja pula, mereka digalakkan untuk meninggalkan perkampungan mereka untuk menimba ilmu di sekolah atau menimba pengalaman daripada luar kampung dengan harapan yang mereka akan pulang sebagai seorang dewasa yang lebih matang dan bertanggungjawab kepada keluarga dan nagari (kampung halaman).
Tradisi ini berhasil mendirikan beberapa masyarakat rantauan Minangkabau di bandar dan tempat-tempat lain di Indonesia. Namun ikatan mereka dengan Ranah Awak (Tanah Minang) masih disimpan dan dikuatkan lagi. Satu contoh kawasan yang didiami oleh masyarakat Minangkabau dan masih mengamalkan adat dan budaya Minangkabau adalah Negeri Sembilan di Malaysia.
Selain daripada dikenali sebagai orang pedagang, masyarakat Minang juga berjaya melahirkan beberapa penyair, penulis, negarawan, ahli fikir dan para ulama. Ini mungkin terjadi kerana budaya mereka yang memberatkan penimbaan ilmu pengetahuan. Sebagai penganut agama Islam yang kuat, mereka cenderung kepada idea untuk menggabungkan ciri-ciri Islam dalam masyarakat yang moden. Selain itu, peranan yang dimainkan oleh para cendekiawan bersama dengan semangat bangga orang Minang dengan identiti mereka menjadikan Tanah Minangkabau, iaitu, Sumatra Barat, sebagai sebuah kuasa utama dalam pergerakan kemerdekaan di Indonesia.
Masyarakat Minang, terbahagi kepada beberapa buah suku, iaitu, Suku Piliang, Bodi Caniago, Tanjuang, Koto, Sikumbang, Malayu dan Jambak. Kadang-kadang juga, keluarga yang sesuku tinggal dalam satu rumah besar yang dipanggil Rumah Gadang. Penggunaan bahasa Indonesia berleluasa di kalangan masyarakat Minang, tetapi mereka masih boleh bertutur dalam bahasa ibunda mereka, iaitu, bahasa Minangkabau. Bahasa Minangkabau mempunyai perkataan yang serupa dengan bahasa Melayu tetapi berbeza dari segi sebutan dan juga tatabahasa hingga menjadikannya unik dari bahasa Melayu.
Salah satu aspek terkenal mengenai orang Minang adalah makanan tradisional mereka seperti rendang, Soto Padang (makanan sup), Sate Padang dan Dendeng Balado (daging dendeng berlada). Restoran Minangkabau yang sering digelar “Restoran Padang” dapat dijumpai di merata Indonesia dan di negara-negara jiran yang lain.
Upacara dan perayaan
Upacara dan perayaan Minangkabau termasuk:
• Turun mandi – upacara memberkati bayi
• Sunat rasul – upacara bersunat
• Baralek – upacara perkahwinan
• Batagak pangulu – upacara pelantikan penghulu. Upacara ini akan berlansung selama 7 hari di mana seluruh kaum kerabat dan ketua-ketua dari kampung yang lain akan dijemput
• Turun ka sawah – upacara kerja gotong-royong
• Manyabik – upacara menuai padi
• Hari Rayo – perayaan Hari Raya Aidilfitri
• Hari Rayo – perayaan Hari Raya Aidiladha
• Maanta pabukoan – menghantar makanan kepada ibu mentua sewaktu bulan Ramadan
• Tabuik – perayaan Islam di Pariaman
• Tanah Ta Sirah, perlantikan seorang Datuk (ketua puak) apabila Datuk yang sebelumnya meninggal dunia silang beberapa jam yang lalu (tidak payah didahului dengan upacara batagak pangulu)
• Mambangkik Batang Tarandam, perlantikan seorang Datuk apabila Datuk yang sebelumya telah meninggal 10 atau 50 tahun yang lalu (mengisi jawatan yang telah lama dikosongkan)
Seni
Seni tradisonal Minangkabau termasuk:
• Randai, teater rakyat dengan memasuki pencak, musik, tarian dan drama
• Saluang Jo Dendang, serunai bambu dan nyanyian
• Talempong musik bunyi gong
• Tari Piring
• Tari Payung Menceritakan kehidupan muda-mudi Minang yang selalu riang gembira
• Tari Indang
• Pidato Adat juga dikenali sebagai Sambah Manyambah (sembah-menyembah), upacara berpidato, dilakukan di setiap upacara-upacara adat, seperti rangkaian acara pernikahan (baralek), upacara pengangkatan pangulu (penghulu), dan lain-lain
• Pencak Silat tarian yang gerakannya adalah gerakan silat tradisional Minangkabau
Kraftangan
Traditional Minangkabau crafts include:
• Kain Songket
• Sulaman
• Ukiran kayu
• menukang emas dan perak
Agama
Kebanyakkan orang apabila diberitahu bahawa masyarakat Minang merupakan penganut Islam yang kuat merasa bingung kerana anggapan mereka ialah sebuah masyarakat yang mengikut sistem saka (matriarchal) akan sering berselisih dengan fahaman Islam yang lebih patriarchal. Namun sebenarnya, terdapat banyak persamaan di antara fahaman Islam dan Minangkabau (lebih lagi pada masa kini) sehingga menjadi sukar untuk orang Minang membezakan satu daripada lain.
Seperti contoh:
• Fahaman Islam: Menimba ilmu adalah wajib.
Fahaman Minangkabau: Anak-anak lelaki mesti meninggalkan rumah mereka untuk tinggal dan belajar dengan di surau (langgar, masjid).
• Fahaman Islam: Mengembara adalah digalakkan untuk mempelajari dari tamadun-tamadun yang kekal dan binasa untuk meningkatkan iman kepada Allah.
Fahaman Minangkabau: Remaja mesti merantau (meninggalkan kampung halaman) untuk menimba ilmu dan bertemu dengan orang dari berbagai tempat untuk mencapai kebijaksanaan, dan untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Falsafah merantau juga bererti melatih orang Minang untuk hidup berdikari, kerana ketika seorang pemuda Minang berniat merantau meninggalkan kampungnya, dia hanya membawa bekal seadanya.
• Fahaman Islam: Tiada wanita yang boleh dipaksa untuk berkahwin dengan lelaki yang dia tidak mahu berkahwin.
Fahaman Minangkabau: Wanita menentukan dengan siapa yang mereka ingin berkahwin.
• Fahaman Islam: Ibu berhak dihormati 3 kali lebih dari bapa.
Fahaman Minangkabau: Bundo Kanduang adalah pemimpin/pengambil keputusan di Rumah Gadang.
Ciri-ciri Islam begitu mendalam dalam adat Minang sehingga mereka yang tidak mengamalkan Islam dianggap telah terkeluar dari masyarakat Minang.
Masyarakat Minangkabau di Negeri Sembilan
Pada permulaan abad ke-14, orang-orang Minangkabau mula tiba di Negeri Sembilan melalui Melaka dan sampai ke Rembau. Orang Minangkabau ini lebih bertamadun daripada penduduk asal iaitu, Orang Asli, dan berjaya tinggal secara damai dengan mereka. Dengan itu berlakulah pernikahan antara orang-orang Minangkabau dengan penduduk asli dan daripada keturunan mereka dinamakan suku Biduanda. Suku Biduanda ini adalah pewaris asal Negeri Sembilan dan apabila hendak memilih seorang pemimpin maka hanya mereka dari suku Biduanda inilah yang akan dipilih. Orang-orang Minangkabau yang datang kemudian adalah dari suku kampung-kampung asal mereka di Minangkabau. Pada peringkat awal kebanyakan yang tiba adalah dari Tanah Datar dan Payakumbuh.
Dari suku Biduanda inilah asalnya pembesar-pembesar Negeri Sembilan yang dipanggil ‘Penghulu’ dan kemudiannya ‘Undang’. Sebelum wujudnya institusi Yang di-Pertuan Besar, Negeri Sembilan berada di bawah naungan kerajaan Melayu Johor.
Orang-orang Minangkabau terkemuka
• Abdul Muis, penulis, wartawan dan pejuang kebangsaan
• Leftenan Adnan bin Saidi, wira Perang Dunia II
• Chairil Anwar, pujangga
• Buya Hamka, cendekiawan Islam
• Prof Dr Emil Salim, ahli ekonomis dan bekas menteri Indonesia
• Haji Agus Salim, pejuang kemerdekaan Indonesia
• Mohammad Hatta, Naib Presiden Indonesia yang pertama dan salah seorang pengasas negara Indonesia
• Siti Mangopoh, pejuang wanita yang berlawan mengusir penjajah Belanda
• Rasuna Said, menteri wanita pertama di Indonesia
• Rohana Kudus, aktivis wanita dan pengarang
• Sutan Sjahrir, bekas perdana menteri Indonesia
• Ibrahim Datuk Tan Malaka, nasionalis dan ketua parti komunis
• Tuanku Imam Bonjol, Pemimpin gerakan Padri. Islam di Minangkabau yang berfahaman Wahabi, keras dan berdasarkan Al Quran dan Sunnah menyebaban perselisihan antara Ulama dan Pemimpin Adat kerana Islam melarang beberapa kebiasaan-kebiasaan adat, seperti menyabung ayam dan sebagainya. Namun dalam perkembangannya, beberapa kebiasaan masyarakat Minang yang dilarang Islam itu lambat laun menghilang sejalan dengan bertambahnya ulama-ulama Minangkabau yang menuntut ilmu langsung di Mekah dan kembali lagi ke Minangkabau.
• Tuanku Nan Renceh, ketua dalam Perang Padri
• Yusof Ishak, presiden pertama Singapura
• Zubir Said, penggubah lagu kebangsaan Singapura, Majulah Singapura
• Hasyim Ning, usahawan terkenal pada era Sukarno
• Ir. Fazwar Bujang Direktor Utama syarikat PT. Krakatau Steel Indonesia
• Adityawarman, Raja pertama Minangkabau, masih mempunyai tali darah dengan Majapahit dan Gajah Mada. Ibu Adityawarman adalah puteri raja Kerajaan Melayu di Jambi yang disunting salah satu raja Majapahit, dan dihantar kembali ke Minangkabau untuk memerintah di wilayah Minangkabau. Namun kerana Adat Minangkabau yang begitu kuat, di mana pemerintahan tertinggi dari suatu nagari adalah Tigo Tungku Sajarangan; Pangulu, Cadiak Pandai, Alim Ulama (Bukan Rajo), maka kedudukan Aditiyawarman sebagai raja Minangkabau hanya sebagai lambang saja; bahkan Adityawarman memutuskan hubungan dengan Majapahit dan mendirikan kerajaan Minangkabau yang merdeka dan berpusat di Pagaruyung.
• Dr Sheikh Muszaphar Shukor Al Masrie bin Sheikh Mustapha, angkasawan pertama Malaysia
• Tan Sri Datuk Abdul Samad Idris, ahli politik, budayawan, sejarawan dan penulis Malaysia
• Tan Sri Norma Abas. Wanita pertama Hakim Besar Malaya

HARTA PUSAKA TINGGI DAN TANAH ULAYAT DI MINANG KABAU

Kamis, 06 Maret 2014

PASAMBAHAN MAANTAAN KAPAN



                                               ======PASAMBAHAN MAANTAAN KAPAN======== 

Angku datuak ...... ! NAK BARUNDIANG AMBO SAPATAH JO ANGKU DATAUK ...
Sambah manyambah kito pulangkan kapado ALLAH, salawaek kito ucapkan kapado RASUL ...  Parundiangan ambo tibokan kapado angku datuak ...
Panjang bakarek singkek baambiak ... Singkek tibono ka angku datuak.
Maagak’i dihari nan sahari nangko, Malang ndak dapek diraiah mujua nan ndak dapek ditulak, Singkek palapah panjang dalido singkek langkah panjang tapinto. Lah bapulang karahmatullah urang tuo/anak kamanakan kito, mangko barhimpunlah anak bapak, karik kabiah, ipa jo bisan sarato buek arek karang nan badagok mambaoan nan sapanjang adaek.
Maa nan sapanjang adaek ....
 Rokok nan sabatang,siriah nan sakapua. Balaia lah sampai kapulau bajalan lah sampai kabateh, limbago nan batuang cupak nan baisi jo urang nan bakarik jo kabiah mambaoan nan sapanjang adat. Mati bapak bakalang anak, mati anak bakalang bapak mambaoan kapan nan salampih . Adat jo kapan nan katangah mintak ditarimo jo muluik nan manih jo hati nan suci .... Sakian sambah diantakan sampai kabakeh angku datuak .....

JAWEK ......
Manuruik parundiangan angku datuak nan tibo katangah nan sampai kabakeh ambo, dikito nan baadok adang bana lai kasampai paham lai ka saukua, tapi sungguahpun baitu nan kayo kato baiyo nan bana kato mufakaek, dibao kato angku jo mufakaek kasilang nan bapangka karajo nan bapokok  kaurang sapuluah salingka duduak, lai manuruik adaek duh angku datuak ...?
“Bao lah kato jo mufakaek, mananti kami angku datuak ....”

JAWEK SIPANGKA .....
Maagak’i dihari nan sabanta ko , parundiangakn angku datuak nan tibo kabakeh ambo, kato lah dibao jo mufakaek, rundiang lah dibao jo baio, nan kajadi buah jo bari dari silang nan bapangka karajo nan bapokok, dikapan katangah yo kabatarimo jo muluik nan manih hati nan suci. Tapi sungguahpun ba itu .... kampuang kok baonggok nagari kurang siang bak hari kurang tarang bak bulan nan mambao minta ditarangkan ....

JAWEK NAN MAMBAO ...
Kurang siang bak ari kurang tarang bak bulan .... nan mabaokan nyo anak/cucu di pandan angku datauk .....

JAWEK NAN MANARIMO ...
Dikapan nan katangah lah batarimo jo muluik nan manih jo hati nan suci .....
Manuruik pasa nan biaso painyo batampek .... isi lah tingga nan tampeknyo yo kambali ka angku datauk ....

MINTA MAAF SUDAH MAANTAKAN KAPAN .....
Angku datuak .....
Nak barundiang sapatah lai ....
Nan ka jadi buah parundiangan kabakeh angku datuak , panjang nan bakarek singkek nan bapakai basingkek singkek sajo tibonyo ... Samaso hiduik, panjang jalan banyak nan nampak, lamo iduik banyak dirasai, Sunah dari nabi utang kito manjalani, kami nan sabondong lalu saganjua suruik minta rila jo maaf kabakeh ahli waris nan tingga.
JAWAB .....
Rila gadang faidah, maaf gadang harago .... tapi dek kami ado duduak jo urang sapuluah salingka duduk sarato ahli waris, ambo bao kato baio jo mufakat lai ko manuruik adaek jo pusako ....?
.......
Lah ambo bao kato angku datuak tadi baio jo mufakat jo urang sapuluah salingka duduak sarato ahli warih, mako dapeklah kabuah barinyo ... Rila gadang faidah maaf gadang harago ..... itu lah kabuah barinyo angku datuak ....

MINTAK KAPULANG MAANTAKAN KAPAN ....
Dirangkak nan malarai, diratok nan bapujuak, rasonyo bajalan lah sampai kabateh balaia lah sampai kapulau ..... Pihak kami nan tibo dek wakatu alah tibo/ jalan 2 tarantang, duduak nak maurak selo tagak nak maasak langkah mintak dilapeh jo muluik nan manih hati nan suci. Sakian parundiangan ambo tiboan ka bakeh angku datuak ....
                                            =========================================

Rabu, 26 Februari 2014

Maelo Karajo Jo Usaho, Maelo Parang Jo Barani, Nan Budi Usah Tajua

MENYIKAPI berbagai fenomena perubahan dalam kebudayaan Minangkabau sebenarnya tak lepas dari gejala alam yang semestinya telah di arifi oleh masyarakatnya. Alam merupakan guru dan sumber inspirasi yang tak pernah kering. Dari alam lah semua gagasan dan pemikiran dilahirkan dalam menghadapi dan menyikapi komplekitas tantangan zaman. Tinggal lagi bagaimana kita menterjemahkan tanda-tanda alam, lalu menyarikan ke dalam konstruksi pemikiran dalam bangun pengetahuan sebagai strategi menyikapi gejala yang menandai perubahan tersebut.

Dalam konteks pertahanan diri dan inisiatif yang mesti dilakukan menghadapi segala tantangan yang pasti datang, peletak konsep tradisi budaya Minangkabau begitu sadar akan kenyataan yang dapat terjadi di masa depan. Menghadapi kenyataan akan perubahan yang harus dilalui, sesuatu yang tidak bisa diduga namun pasti terjadi, memerlukan warisan konseptual sebagai penuntun langkah agar tidak tersesat di perjalanan, dalam membangun harapan untuk kehidupan ke depan yang lebih baik dari sebelumnya. Kesadaran akan berbagai tantangan dan perubahan dalam menjalani kehidupan itu telah disarikan dalam ragam pepatah petitih, pantun dan mamangan adat. Maelo karajo jo usao, maelo parang jo barani, nan budi usah tajua merupakan satu mamangan adat yang berkaitan dengan bagaimana strategi untuk menghadapi tantangan zaman.
Maelo karajo jo usao, menjelaskan tentang pentingnya inisiatif. Adanya subjek yang berani memulai berbuat, agar yang lain dapat mengikuti. Sebuah konsekwensi logis dalam hidup bahwa sebuah usaha keras dalam mencapai sesuatu yang diinginkan menjadi mutlak adanya. Maelo parang jo barani sebuah perumpamaan yang lebih dimaknai pada aspek psikologis, betapa pentingnya memacu semangat dan harapan, berani menghadapi tantangan, resiko hidup atau mati, kalah maupun menang, sebagai sebuah konsekwensi yang mesti diterima dalam ‘peperangan’, peperangan dalam berbagai wujud.
Maelo karajo jo usao, maelo parang jo barani merupakan strategi mewujudkan cita-cita yang ingin diraih dalam kehidupan. Usaha dan keberanian menjadi titik berangkat dalam mencapai hasilnya. Suka bekerja keras dan mempunyai keberanian dalam menghadapi rintangan adalah pesan yang disampaikan dalam idiom ini.
Namun demikian, usaha dan keberanian saja dalam hal tidaklah cukup, keduanya harus dibarengi dengan kejujuran. Adat Minangkabau tidak hanya memandang hasil yang dapat diraih, tetapi juga memperhitungkan bagaimana cara meraihnya, proses apa yang sudah dijalani untuk mencapai sesuatu yang diinginkan menjadi nilai yang penting. Ia harus lah senantiasa ada dalam cara-cara yang tak meyalahi koridor adat, semuanya mesti dipertimbangkan jangan sampai mengorbankan harga diri, bercacat-cela dalam pandangan masyarakat. Oleh karenanya mamangan adat mengingatkan, Maelo karajo jo usaho, maelo parang jo barani,nan budi usah tajua.
Adat Minangkabau sedari awal telah menyiapkan perangkat pengetahuan agar masyarakat senantiasa siap menghadapi berbagai tantangan. Pembiasaan pola hidup yang demikian memunculkan kemandirian dan inisiatif yang tinggi bagi individu, untuk menjadi motor penggerak kemajuan bagi zamannya, tanpa harus tenggelam terbawa arus peradaban baru, karena adanya kemampuan menjaga agar budi jan tajua.
Akan tetapi, hari ini masih pentingkah menjaga budi bagi masyarakat kita? Kita cenderung pragmatis, ingin dapat banyak dengan usaha yang seminimnya. Proses sudah tidak kita pentingkan, soal cara jangan ditanya, hasil yang banyak lah yang menjadi tujuan.
Ondeh Mak…
Betapa kasarnya materialism telah membenamkan kepala kita.

ANAK DIPANGKU-KAMANAKAN DIBIMBIANG

Niniak mamak nan gadang basa-batuah,
Alim Ulama Tuangku nan kiramat ,  sarato Bundo Kanduang nan arih bijaksano,
Kok mudo indak diimbaukan namo ,  kok gadang indak disabuikkan tuah , jo salam sajo ambo muliakan .
Assalamualaikum w.w.
Duduak surang basampik-sampik, duduak basamo balapang-lapang , baitu pitaruah niniak kito. Molah kita taruihkan ” mambangkik batang tarandam “  , mangaji-ngaji ajaran Adat ,  Mudah-mudahan baguno untuak anak kamanakan kito nan mudo-mudo, isuak .  Amien……

Indak ado gadiang nan tak ratak , manusia basipaik khilaf , kok sasek ambo bakato, kok lupo ambo dalam alua jo patuik , tolong bilai dima nan senteng , tolong tukuak dima nan kurang.
Dalam ba gotong royong “mambangkik batang tarandam”, marilah kito karajokan pulo apo nan dapek dikarajokan sacaro baketek-ketek  atau kok nak bagadang alah dikarajoan dek  urang gadang-gadang.
Nan paralu diawak kini dalam rangka “mambangkik batang nan tarandam”  sahari-hari , misalnyo mampalajari ;
- Apo kawajiban Mamak taradok Kamanakan ,
- Baa hubungan Mamak jo Kamanakan, manurut ajaran Adat di Minangkabau nan biaso disabuik urang system kekerabatan Matrilinial tu .
Saciek nan jadi  padoman hubungan mamak jo kamanakan iyolah pepatah nan babunyi  pantun;
Kaluak paku , kacang balimbiang
Tampuruang lenggang-lenggangkan
Dibao urang ka Suruaso .
Anak dipangku kamanakan dibimbiang
Urang kampuang patenggangkan
Jago Adat jan binaso .
Pantun iko barisi 3 pokok ajaran atau doktrin nan diwarihkan  dek niniak moyang kito dari generasi ka generasi sampai ka kito kini nangko, yaitu   :
  1. Anak dipangku , kamanakan dibimbiang, iyolah realisasi dari duo fungsi nan diemban oleh satiok laki-laki di Minagkabau .
  2. Urang kampuang dipatenggangkan,iyolah kawajiban social ditangah-tangah masyarakat. Hablunmminannas manuruik hukum Syarak nyo .
  3. Jago adat  jan binaso, maksudnyo kewajiban satiok urang Minangkabau memaliharo nilai-nilai Adat dan budaya Minangkabau .
Cupak salingka Batuang, Adat Salingka Nagari. Lain lubuak lain ikannyo, lain padang lain bilalang, namun ikannyo itu juo . Baitu kato urang tuo-tuo , tantang parbedaan-parbedaan nan ado antaro Nagari-nagari di Minangkabau .
Manuruik pitaruah dari urang tuo-tuo, laki-laki di Minangkabau mamikua duo baban barek sakali gus yaitu :
* Sabagai Urang Sumando ( apak paja ) dirumah anak,
* Sabagai Mamak Rumah dirumah urang gaek.
Kaduonyo disabuik – fungsi ganda lelaki di Minangkabau. Sabagai Rang Sumando/kapalo Keluarga, lelaki minang ikuik mamangku anak, artinyo saratuih parsen anak manjadi tanggungan bapakny. Makan minun, sekolah, dan kabutuhan hiduiknyo – hinggo kaki anak iko sampai ndak buliah manyingguang tanah ( ikolah perumpaan mamangku anak). Sekalipun anak dipangku tantu ado batehnyo, yatiu katiko si anak alah pandai bajalan surang – lah tumbuah gadang, ikolah saatnyo malapehnyo pai bajalan.
Sasudah pandai bajalan – lah tamaik pulo sakolahnya – lah manjadi urang – sampailah anak ko mampu barumah tango .
Pabilo kamanakan dibimbiang ? Kamanakan dibimbiang , sampai kaliang kubua , baitu pitaruah urang tuo-tuo kito. Aratinyo -  kamanakan bajalan jo kakinyo surang – si Mamak mambimbiang jo ujuang jari. Mambimbiang anak lai indak  indak sabarek mamangku anak, tapi sampai mati -  si Mamak punyo kawajiban mambimbiang Kamanakannyo. Tarutamo masaalah Adat dalam kahidupan ba Nagari, dalam panguasaan dan pangurusan harato Pusako Tinggi.
Zaman saisuak,  urang bakarajo jo tanago nan dinamoan ” tulang nan ampek karek”. Jadi tugas mamak mambimbiang kamanakan jo tanago sarato ilimu dan pangalaman nan ado .
Manuruik ajaran nan kito tarimo , supayo baban utamo mamangku anak indak taganggu , mako untuak mambimbiang kamanakan tu , hari nan 7 dibagi duo ,  5 hari mancari nafkah untuak anak-bini dan 2 hari untuak mambantu/mambimbiang kamanakan Karano kamanakan tu biasonyo banyak , mako mambagi hari nan 2 tu , tantu disasuaikan jo kaparaluan kamanakan , dan biasonyo mamak pun bukan cuma surang , ado baduo atau batigo bahkkan labiah dari tigo urang , jadi dapek dipikua basamo untuak itu diatur dan diarahkan oleh para ibu-ibu nan basangkutan supayo hasienyo samparono dan marato.
Urang Sumando pun basanang hati  manarimo . Di siko lah fungsi Mamak Tunganai Rumah atau Mamak Kapalo Warih sarato Bundo Kanduang pamacik kunci nan arek, pamegang puro nan taguah , pusek jalo kumpulan ikan , akan dirasokan guno jo manfaatnyo ba mamak dan bakamanakan manuruik ajaran Adat Minangkabau .
Hari Juma’at adolah hari bakhti Mamak untuak Kamanakan. Sasudah makan pagi dirumah bini, si Mamak akan pulang kakampung  mandenyo -  manjalani sawah nan laweh, mandaki bukik manurun lurah, mamareso padi disawah , maliek tanaman di ladang, kok ado paga nan rarak, kok ado padi nan masak , kok ado tanaman nan dirusak binatang lia , untuak disampaikan ka Kamanakan dirumahnyo . Si Mamak basumbayang Jum’at di kampong ibunyo, sasudah sumbayang Mamak pulang karumah Ibunyo atau karumah kamanakannyo ,  manyampaikan saran jo nasihat , kok ado nan basangketo laki-bini nan paralu dipaeloki , kok ado baban nan kadipikua basamo , kok ado taranak atau tanaman nan kamarugi .  Sasudah langkok makan jo minum , mamintak ampun ka pado Ayah sarato Bundo, Mamak malangkah kumbali kakampuang bini , malanjuikkan karajo baban utamo , Rang Sumando dirumah anak , wajib manafkahi laie jo bathin , baitu kato pusako
Kok tibo hari nan baiak kutiko nan elok, Kamanakan bujang dipadah urang , datanglah inyo karumah Mamak , manyambah mamintak ampun kapado Mamak sarato Etek , mamintak  izin barumah tanggo kakampuang urang . Mamak mamikua tangguang jawab ateh namo dan kahormatan kaum jan sampai Kamanakan , babuek nan ka marugikan urang lain  atau mamalukan kaumnyo sandiri . Mamak wajib macegah poligami , mamak wajib mamparsiapkan Kamanakan nyo untuk manjadi Urang Sumando nan baiak dan tapuji yaitu Rang Sumando Niniak Mamak . Mamak menjalehkan pantangan dan larangan bagi seorang Rang Sumando antaro lain , sifat-sifat buruak dan hino ; Rang Sumando Kacang Miang, Rang Sumando Langau Hijau dan Rang Sumando Lapiak Buruak . Itu untuak Kamanakan nan laki-laki , baa pulo untuak Kamanakan nan Padusi , itu kawajiban para Bundo Kanduang , Mamak Rumah Cuma manunjukan dan mamastikan satu tumpak Sawah Pangasingan , bagi panganten baru sabagai modal partamu barumah tango dari  Pusako Tinggi .
Masaalah Mamak alah kito tinjau sacaro ringkas dan sadarhana, kini mari kito tinjau pulo hak dan kawajiban Kamanakan manuruik ajaran Adat Minangkabau nan kini kito usahokan dalam mambangkik batang tarandam . Manuruik ajaran Adat jo system matrilineal kekerabatan banyak macam dan tingkeknyo , ; Kamanakan nan batali darah, Kamanakan nan batali Adat dan Kamanakan nan batali Budi . Untuak itu kawajiban Mamak sacaro materi dan harato pusako sahinggo Kamanakan nan batali darah , salabiahnyo disasuaikan jo kabutuhan dan kamampuan si Mamak nan kamambantu .
Daulu Mamak mambantu Kamanakan jo tanago tulang nan ampek karek, tapi kini mamak lah manarimo gaji bulanan , mahetong pitih dikotak satiok hari , tingganyo jauah dikota-kota gadang , jaman moderen lah maubah caro-caro kahidupan masyarakat Minangkabau, Bank-bank tabungan lah ado kaganti Lumbuang padi nan lah tirih , internet lah dapek mampadakekan jarak nan jauah , satiok waktu Mamak jo Kamanakan dapek basuo . Lah masonyo kito mamikiekan konsep Pusako Tinggi dizaman moderen nan bak kini , untuak itu kito pulangkan kapado nan pandai para itelektual Minangkabau .
Alhamdulillah untuak itu niniak moyang kito lah maninggakan pitunjuak nan baguno di sagalo jaman . “ Sakali aie gadang – sakali tapian barubah …dst “  Kok nak bakisa tagak bakisalah ditanah nan sabingkah , kok bakisa duduak bakisalah di lapiak nan sahalai “ Allqur’an dan Sunnah Rasulullah pamaganyo . Tujuan hiduik tak lain adolah kasampurnaan hiduik didunie, dan kasampurkaan hiduik di akhirat . Tuntuik lah ilimu sampai kaujuang dunia, nan diranah Minang tatap akan baguno . Insyaallah .
Sahinggo iko lah daulu , kok dirantang namuah panjang, diambiak sakiro kapaguno, kudian kito sambuang pulo , ……..  insyallah .