Kamis, 26 September 2013

PENGHULU NINIK MAMAK DI MINANG KABAU





OLEH : Drs. H, Afrijon Ponggok Katik Basa Batuah




Penghulu (dalam bahasa Minang disebut Pangulu) dan ninik mamak di Minang Kabau mempunyai peranan yang sangat penting dan menentukan dalam kekuatan kekerabatan adat Minang itu sendiri, tanpa penghulu dan ninik mamak suatu nagari di Minang Kabau diibaratkan seperti kampung atau negeri yang tidak bertuan karena tidak akan jalan tatanan adat yang dibuat, “Elok nagari dek Pangulu sumarak nagari dek nan mudo”

Pengertian Pangulu (Penghulu)

Pangulu berasal dari kata Pangka dan Hulu (pangkal dan hulu) Pangkal artinya tampuk atau tangkai yang akan jadi pegangan, sedangkan hulu artinya asal atau tempat awal keluar atau terbitnya sesuatu, maka pangulu di Minang Kabau artinya yang memegang tampuk tangkai yang akan menjadi pengendali pengarah pengawas pelindung terhadap anak kemenakan  serta tempat keluarnya sebuah aturan dan keputusan yang  dibutuhkan oleh masyarakat anak kemenakan yang dipimpin pangulu, “Tampuak tangkai didalam suku nan mahitam mamutiahkan tibo dibiang kamancabiak tibo digantaiang kamamutuih”

Pengertian Ninik Mamak

Ninik mamak adalah merupakan satu kesatuan dalam sebuah lembaga perhimpunan Pangulu dalam suatu kanagarian di Minang Kabau  yang terdiri dari beberapa Datuk-datuk kepala suku atau pangulu suku / kaum yang mana mereka berhimpun dalam satu kelembagaan yang disebut Kerapatan Adat Nagari (KAN). Diantara para datuk_datuk atau ninik mamak itu dipilih salah satu untuk menjadi ketuanya itulah yang dinamakan Ketua KAN. Orang-orang yang tergabung dalam KAN inilah yang disebut ninik mamak, “Niniak mamak dalam nagari pai tampek batanyo pulang tampek babarito”

Pengertian Datuak (Datuk)

Datuak (Datuk) adalah gelar pusako adat dalam suatu suku atau kaum yang diberikan kepada seseorang dalam suku atau kaum itu sendiri dengan dipilih atau ditunjuk  dan diangkat oleh anak kemenakan suatu suku atau kaum yang bersangkutan melalui upacara adat dengan syarat-sayarat tertentu menurut adat Minang.

Seorang Datuak dia adalah pangulu dalam suku atau kaumnya dan sekaligus menjadi ninik mamak dalam nagarinya, dengan pengertian yang lebih rinci lagi : Datuak gelarnya, Pangulu Jabatannya dan Ninik mamak lembaganya dalam nagari.

Sebagai Datauak dia harus menjaga martabatnya karena gelar datuak yang disandangnya adalah gelar kebesaran pusaka adat dalam suku atau kaumnya, banyak pantangan dan larangan yang tidak boleh dilanggar oleh seseorang yang bergelar datuak  dan tidak sedikit pula sifat-sifat positif yang wajib dimilikinya.

Sebagai Pangulu dia harus tau tugas dan tanggung jawabnya terhadap saudara dan kemenakannya dalam membina, mengayomi, melindungi dan mengatur pemanfaatan harta pusaka tinggi dan tanah ulayat untuk kemakmuran saudara dan kemenakannya, namun dia juag harus tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga di rumah tangganya terhadap anak dan istrinya, “Anak dipangku jo pancarian, kamanakan dibimbiang jo pusako”

Sebagai anggota ninik  mamak dia adalah perwakilan dari suku atau kaumnya layaknya seperti anggota DPRD (dalam istilah MInang disebut Andiko) dalam pemerintahan nagari yang mewakili konstituennya untuk menyampaikan dan memperjuangakan aspirasi kaum yang dipimpinnya serta untuk membantu menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul pada anak kemenakannya dalam nagari, “Andiko didalam kampuang kusuak nan kamanyalasai karuah nan kamampajaniah”

Berbagai permasalahan anak kemenakan yang berhubungan dengan hidup bernagari dan berkorong kampung dibahas oleh ninik mamak dari berbagai pengulu kepala suku atau atau datuk – datuk kaum bersama alim ulama cerdik pandai serta pemerintahan nagari di Balai Adat yang disebut balerong dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN), “Balerong ditanah Minang tampek duduk nak samo randah, tampek tagak nak samo tinggi, tampek duduak bajalan baiyo, tampek tagak bakato bamolah, tampek manjari bana nan saukua nak tibo kato dimufakat, tampek mahukum nak samo adia, tampek mambagi nak samo banyak”

Hasil musyawarah mufakat inilah yang dijadikan pedoman dalam menata kehidupan bermasyarakat di dalam suatu kenagarian dan disinilah dirumuskan Adat nan diadatkan beserta Adat Istiadat yang disesuaikan dengan kebutuhan situasi kondisi serta perkembangan masyarakat dan kemajuan zaman yang tentunya tetap mengacu kepada landasan Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah.

Dalam melaksanakan tugasnya Pangulu dipanggil dengan sebutan “Urang nan gadang basa batuah” dia gadang pada kaumnya dia basa pada sukunya dan dia batuah dalam nagari, gadang dalam kaumnya artinya seorang pengulu dia dibesarkan atau dituakan selangkah dalam kaumnya, dan basa pada sukunya artinya dia menjadi panutan, pemimpin pengatur dalam sukunya, sedangkan batuah dalam nagari artinya seorang pangulu karena dia ninik mamak maka apa-apa yang dikatakan dan diperbuatnya juga menjadi acuan sehingga dia disegani dan dihormati dalam nagari.

Seorang pangulu adalah pucuk pimpinan dalam kaumnya pada suatu unit pemerintahan dalam nagari, pangulu dibantu oleh tiga unsur perangkat adat yaitu :

1.      Malin yang membidangi persoalan agama
2.      Manti sebagai pelaksana kebijakan
3.      Dubalang ysng brtsnggung jswab terhadap keamanan

Inilah yang disebut urang nan ampek jinih yaitu Pangulu, Malin, Manti dan Dubalang.


Memilih dan mengukuhkan seorang Pangulu atau datuak.

Seorang Datuaul atau pangulu dipilih dan dinobatkan apabila terjadi beberapa hal dalam suatu suku atau kaum :

1.      Apa bila Datuk atau Pangulu yang terdahulu tealah meninggal dunia (Patah tumbuah hulang baganti)

2.      Apa bila Datauk atau Pangulu yang saat ini sedang menyandang gelar datuak telah berusia lanjut atau dalam keadaan sakit berat dan tidak mungkin atau sanggup lagi untuk menjalankan tugas-tugasnya sebagai Datauak atau Pangulu. (Hilang dicari lapuak diganti)


3.      Apa bila Datauak yang sedang menyandang gelar Datuak atau Pangulu saai ini mengundurkan diri minta diganti, (Malatak-an gala)

4.      Apa bila terjadi pelanggaran moral, adat dan agama serta hukum yang berlaku lainnya oleg orang yang menyandang gelar Datuak atau Pangulu saat ini dan anak kemenakan sepakat untuk menggantinya, (Mambuek cabuah jo sumbang salah)

5.      Kalau ada Datauk atau pangulu yang sudah lama tidak di angkat karena sesuatu hal dan saat ini sudah memnuhi syarat untuk dianggkat (Mambangkik Batang Tarandam)

Dalam tatanan adat Minang Kabau ada 2 cara memilih seorang pangulu atau datuak :

1.      Menurut adat Suku Bodi Chaniago dan pecahannya (banyak lagi nama suku suku yang lain pecahan dari suku asal Bodi dan Chaniago ata Koto Piliang) seorang pangulu atau datuak dipilih secara musyawarah mufakat oleh anak kemenakan suku tersebut berdasarkan syarat-syarat tertentu dengan mempertimbangkan mungkin dan patut, dalam istilah adat disebut “Hilang dicari lapuak diganti, duduak samo randah tagak samo tinggi, duduak saamparan tagak sapamatang”

2.      Menurut adat suku Koto Piliang dan pecahannya seorang pangulu atau datauak dipilih berdasarkan keturunan dan pergiliran gelar pengulu tersebut dalam suku atau kaum itu berdasarkan syarat-syarat tertentu dengan mempertimbangkan mungkin dan patut, dalam istilah adat disebut “ramo ramo sikumbang jati katik endah pulang bakudo, patah tumbuah hilang baganti pusako lakek kanan mudo”, rueh tumbuah dimato.

Syarat-syarat seseorang dipilih menjadi seorang pangulu atau datuak :

1.      Memenuhi 4 sifat nabi Sidik, Tablihk, Amanah, dan Fthanah
2.      Loyalitas yang tinggi terhadap kaum, suku, anak kemenakan dan nagari
3.      Berilmu pengetahuan tentang adat dan agama dll
4.      Adil dalam memimpin anak kemenakan dan keluarga
5.      Berani dalam menegakkan kebenaran dan mencegah kebathilan
6.      Taat menjalankan ajaran agama dan adat
7.      Tidak cacat moral dimata masyarakat dalam nagari
8.      Mungkin dan patut, ini yang paling dipertimbangkan, karena ada orang yang mungkin tapi tidak patut, dan ada yang patut tapi tidak mungkin, contohnya adalah ada orang yang memenuhi syarat-syarat diatas tetapi di hidup di rantau yang jauh, di mungkin menjadi pangulu tetapi tidak patut karena dia jauh dirantau sedangkan dia akan mengayomi dan mengurus anak kemenakannya dikampung, atau ada yang tinggal dikampung namun tidak memenuhi syarat jadi pangulu, dia patut jadi pangulu tapi tidak mungkin karena kurang persyaratan, yang masuk menurut logika, “batamu mungkin jo patuik sasuai ukua jo jangko takanak barih jo balabeh lah tibo wakatu jo musimnyo disitu alek dibuek”


Pengukuhan dan penobatan pangulu

Setelah pangulu dipilih dengan musyawarah mufakat melalui demokrasi moril secara adat antara anak kemenakan dalam suatu suku atau kaum maka segenap anak kemenakan atau kaum tersebut mempersiapkan acar pengukuhan pada sebuah upacara adat perjamuan Baralek gadang dalam nagari dan ini disebut “malewakan kanan rami, bia basuluah mato hari bagalanggang mato rang banyak”.

Dalam perjamuan baralek gadang pengukuhan seorang pangulu terdapat beberapa symbol-simbol adat diantaranya adalah :

1.      Mambantai Kabau, “Kabau didabiah tanduak dibanam darah dikacau dagiang dilapah” (menyembelih kerbau, kerbau disembelih, tanduk ditanam, darah dikacau daging dimakan) pengertian menyembelih kerbau adalah membunuk sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri seoerang pangulu, tanduk ditanam artinya membuang sifat-sifat hewani yang cendrung melukai dan membinasakan dari jiwa seorang pangulu pemimpin adat, sedangkan pengertian darah dikacau adalah mendinginkan darah yang panas dalam hati seorang pemimpin, karean seorang pangulu harus bejiwa teduh mengayomi dia harus tau kalau dia adalah pemimpin tidak boleh berhati dan berdarah panas dalam menghadapi orang yang dipimpinnya, dan dan pengertian daging dilapah adalah bahwa seorang ninik mamak dia adalah tempat mengadu anak kemenakannya dikala susah dan kelaparan, harta pusaka tinggi dan ulayat yang diaturnya adalah untuk kemakmuran anak kemenakannya, “Kok pangulu lai dinan bana bumi sanang padi manjadi taranak bakambang biak anak kamanakan basanang hati urang kampuang sato manyukoi”

2.      Marawa dipancangkan (mengibarkan umbul-umbul) dimedan perhelatan. Marawa 3 warna : kuning, merah dan hitam berdiri kokoh menjulang tinggi keudara namun ujungnya menjulai tunduk kebawah dengan pengertian :

1.      Warna kuning melambangkan kekuasaan seorang pangulu (mahukum adia bakato bana)

2.      Warna merah melambangkan keberanian (barani karano bana, takuaik karano salah)


3.      Warna hitam melambangkan kesabaran dan ketabahan seorang pangulu dalam mengahadapi anak kemenakannya.

4.      Berdiri kokoh menjulang tinggi artinya seorang pangulu harus mempunyai wibawa dan kharismatik  ditengah-tengah kaum dan masyarakat dalam nagari.


5.      Ujung marawa  menjulai tunduk kebawah melambangkan walau pangulu orang yang ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah namun dia tetap harus melihat kebawah memperhatikan dan mengayomi orang yang dipimpinnya dengan rendah hati memakai ilmu padi semakin berisi semakin tunduk.

3.      Malatuihan badia sadantam (meletuskan bedil sedantam) nan gaganyo karonggo bimi dantangnyo sampai kalangik (gegrnya kerongga bumi gaumnya sampai ke langit) itulah ikrar seorang pengulu kepada manusia dan janjinya kepada Allah sebagai sumpah jabatan yang mesti dipertanggung jawabkan.


Kedaulatan seorang Datuak atau Pangulu

Kedaulatan seorang Datuak atau Pangulu di Minang Kabau tidak lebih seperti powernya seorang ketua sebuah oprganisasi dia ada karena dipilih dan diangakat oleh kaumnya “nan diamba gadang dianjuang tinggi”  gadangnyo karano diamba tinggunyo karano dianjuang, apa bila anak kemenakan meninggikan dia maka tinggilah dia, tinggi dimata anak kemenakan dan tinggi dimata urang nagari tapi kalau anak kemenakan sudah tidak menghormatinya lagi maka dengan sendirinya hilang pulalah kehormatan seorang datauak atau pangulu.

Pemberhentian seorang Datauak atau pangulu tidaklah harus menunggu satu priode masa jabatan karena tidak ada batasan masa jabatan seorang Pangulu atau datuak di Ranah Minang, kalau seorang datuak atau pangulu telah berbuat sumbang salah menurut adat dan agama maka gelar datauak atau pengulunya sudah bisa dilucuti atau diberhentikan jadi datauak atau pangulu dan menggantinya dengan yang lain “Kalau punco mararak ulu kalau pasak mambaok guyah kalau tungkek mambaok rabah mohon datuak baganjua suruik banyak nan lain kapangganti”

Batasan antara Datauk atau Pangulu dengan anak kemenakan yang dipimpinnya hanyalah sebatas kejujuran dalam mungkin dan patuik, oleh sebab itu maka seorang pangulu haruslah adil dan bijak sana dalam memimpin anak kemenakannya, “Jikoklah tagak dinan cupiang manampuah jalan baliku, bakato indak dinan bana, mahukum indak dinan adia mambagi bak kato surang disinan baju balipeknyo mamak diganti jonan lain”.

Kekuasaan Ninik mamak dalam adat Minang kabau hanyalah “tinggi sarantiang jumbo-jomboan sarangguik runtuah badaram, didahulukan cuman salangkah bajarak tungkai-tungkaian sahambua lompeklah tibo sadatiak wakatu nampak satitiak salah basuo baitu ukua jo jangko di dalam alam Minang Kabau”.  

Namun demikian ditangan pangulu berhimpun kekuasaan yang besar dalam menjalankan tugas membimbing dan mengatur anak kemenakannya, ninik mamak mampunyai fungsi Eksekutif sebagai pelaksana kekuasaan, fungsi Legislatif sebagai pembuat aturan dan funsi yudikatif sebagai pengambik keadilan, funsi ini dilakukan oleh ninik mamak yang disebut “uarang nan ampek jinih” (pangulu, malin, manti dan dubalang) yang mana pangulu sebagai koordinatornya.

Itulah sebabnya Pangulu dan urang nan ampek jinih disebut “Bak kayu gadang ditangah koto ureknyo tampek baselo batangnyo tampek basanda dahannyo tampek bagantuang daun rimbunnyo tampek bataduah, tampek bahimpun hambo rakyat, pai tampek batanyo pulang tampek babarito, sasek nan kamanyapo tadorong nan kamanyintak, tibo dikusuik kamanyalasai tibo dikaruah mampajaniah, mahukum adia bakato bana”

Pangulu dan ninik mamak adalah Ulil amri yang wajib ditaati dan dipatuhi karena dia adalah pemimpin yang dipilih oleh anak kemenakannya sendiri “Tutua sakapa digunuangkan kakok satitiak dilauikkan” dia dimulyakan dihormati dan dijaga martabatnya oleh anak kemenakannya karena Pangulu di Minang Kabau adalah lambang kebesaran suatu suku atau kaum yang wajib dijaga dan dimulyakan.

Namun Pangulu dan ninik mamak bukanlah seperti raja-raja yang harus disembah dan dipuja setinggi langit dan dia tidak boleh dikultuskan seperti dewa-dewa bangsa lain, di Minang Kabau tidak ada istilah bangsawan walaupun dia seoerang datuk apalagi hanya keturunan datuk, di Minang Kabau semua derajat manusia sama tidak ada bedanya, pemimpin adat hanyalah ditinggikan seranting didahulukan selangkah dan dituakan dalam kaum.

Dalam Pakaian Pangulu mulai dari Salauk (Tutup kepala) baju, salempang, celana, keris, ikat pinggang dan sandal semuanya mempunyai arti dan makna yang sangat luas untuk dipahami oleh seorang yang bergelar Datuak atau pengulu.

Tatanan masyarakat Mianag kabau memakai palsapaf “Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo kapangulu, pangulu barajo kamufakat, mufakat barajo kanan bana, bana badiri sandirinyo, itulah inyo hokum Allah”.

Terima kasih

Kamis, 19 September 2013

9 Ajaiban Alam Minangkabau

1. Jembatan Akar – Pesisir Selatan
2. Ngarai Sianok – Bukit Tinggi

3. Danau Singkarak – Tanah Datar
4. Gunung Singgalang – Padang Panjang

5. Laut Mentawai – Mentawai
6. Lembah Arau – Limapuluh Kota
7. Danau Maninjau – Agam

8. Danau Kembar – Solok
9. Pantai Air Manih/Batu Malin Kundang – Padang

Rabu, 04 September 2013

Nilai-nilai Dasar Adat Minangkabau


Sebuah nilai adalah sebuah konsepsi , eksplisit atau implisit yang menjadi milik khusus seorang atau ciri khusus suatu kesatuan sosial (masyarakat) menyangkut sesuatu yang diingini bersama (karena berharga) yang mempengaruhi pemilihan sebagai cara, alat dan tujuan sebuah tindakan.

Nilai nilai dasar yang universal adalah masalah hidup yang menentukan orientasi nilai budaya suatu masyarakat, yang terdiri dari hakekat hidup, hakekat kerja, hakekat kehidupan manusia dalam ruang waktu, hakekat hubungan manusia dengan alam, dan hakekat hubungan manusia dengan manusia.

1. Pandangan Terhadap Hidup

Tujuan hidup bagi orang Minangkabau adalah untuk berbuat jasa. Kata pusaka orang Minangkabau mengatakan bahwa "hiduik bajaso, mati bapusako". Jadi orang Minangkabau memberikan arti dan harga yang tinggi terhadap hidup. Untuk analogi terhadap alam, maka pribahasa yang dikemukakan adalah :

Gajah mati maninggakan gadieng
Harimau mati maninggakan baling
Manusia mati maninggakan namo

Dengan pengertian, bahwa orang Minangkabau itu hidupnya jangan seperti hidup hewan yang tidak memikirkan generasi selanjutnya, dengan segala yang akan ditinggalkan setelah mati. Karena itu orang Minangkabau bekerja keras untuk dapat meninggalkan, mempusakakan sesuatu bagi anak kemenakan dan masyarakatnya. Mempusakakan bukan maksudnya hanya dibidang materi saja, tetapi juga nilai-nilai adatnya. Oleh karena itu semasa hidup bukan hanya kuat mencari materi tetapi juga kuat menunjuk mengajari anak kemenakan sesuai dengan norma-norma adat yang berlaku. Ungkapan adat juga mengatakan "Pulai batingkek naiek maninggakan rueh jo buku, manusia batingkek turun maninggakan namo jo pusako".

Dengan adanya kekayaan segala sesuatu dapat dilaksanakan, sehingga tidak mendatangkan rasa malu bagi dirinya ataupun keluarganya. Banyaknya seremonial adat seperti perkawinan dan lain-lain membutuhkan biaya. Dari itu usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras sangat diutamakan. Orang Minangkabau

Nilai hidup yang baik dan tinggi telah menjadi pendorong bagi orang Minangkabau untuk selalu berusaha, berprestasi, dinamis dan kreatif.

2. Pandangan Terhadap Kerja

Sejalan dengan makna hidup bagi orang Minangkabau, yaitu berjasa kepada kerabat dan masyarakatnya, kerja merupakan kegiatan yang sangat dihargai. Kerja merupakan keharusan. Kerjalah yang dapat membuat orang sanggup meninggalkan pusaka bagi anak kemenakannya. Dengan hasil kerja dapat dihindarkan "Hilang rano dek panyakik, hilang bangso indak barameh"(hilang warna karena penyakit, hilsng bangsa karena tidak beremas). Artinya harga diri seseorang akan hilang karena miskin, oleh sebab itu bekerja keras salah satu cara untuk menghindarkannya.

Dengan adanya kekayaan segala sesuatu dapat dilaksanakan sehingga tidak mendatangkan rasa malu bagi dirinya atau keluarganya. Banyaknya seremonial adat itu seperti perkawinan membutuhkan biaya. Dari itu usaha yang sungguh-sungguh dan kerja keras sangat diutamakan. Orang Minangkabau disuruh untuk bekerja keras, sebagaimana yang diungkapkan juga oleh fatwa adat sbb:

Kayu hutan bukan andaleh Kayu hutan bukan andalas
Elok dibuek ka lamari Elok dibuat untuk lemari
Tahan hujan barani bapaneh Tahan hujan berani berpanas
Baitu urang mancari rasaki Begitu orang mencari rezeki

Dari etos kerja ini, anak-anak muda yang punya tanggungjawab di kampung disuruh merantau. Mereka pergi merantau untuk mencari apa-apa yang mungkin dapat disumbangkan kepada kerabat dikampung, baik materi maupun ilmu. Misi budaya ini telah menyebabkan orang Minangkabau terkenal dirantau sebagai makhluk ekonomi ulet.

Etos kerja keras yang sudah merupakan nilai dasar bagi orang Minangkabau ditingkatkan lagi oleh pandangan ajaran Islam yang mengatakan orang harus bekerja keras seakan-akan dia hidup untuk selama-lamanya, dia harus beramal terus seakan-akan dia akan mati besok.

3. Pandangan Terhadap Waktu

Bagi orang Minangkabau waktu berharga merupakan pandangan hidup orang Minangkabau. Orang Minangkabau harus memikirkan masa depannya dan apa yang akan ditinggalkannya sesudah mati. Mereka dinasehatkan untuk selalu menggunakan waktu untuk maksud yang bermakna, sebagaimana dikatakan "Duduak marauik ranjau, tagak maninjau jarah".

Dimensi waktu, masa lalu, masa sekarang, dan yang akan datang merupakan ruang waktu yang harus menjadi perhatian bagi orang Minangkabau. Maliek contoh ka nan sudah. Bila masa lalu tidak menggembirakan dia akan berusaha untuk memperbaikinya. Duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak merupakan manifestasi untuk mengisi waktu dengan sebaik-baiknya pada masa sekarang. Membangkit batang terandam merupakan refleksi dari masa lalu sebagai pedoman untuk berbuat pada masa sekarang. Sedangkan mengingat masa depan adat berfatwa "bakulimek sabalun habih, sadiokan payuang sabalun hujan".

4. Hakekat Pandangan Terhadap Alam

Alam Minangkabau yang indah, bergunung-gunung, berlembah, berlaut dan berdanau, kaya dengan flora dan fauna telah memberi inspirasi kepada masyarakatnya. Mamangan, pepatah, petitih, ungkapan-ungkapan adatnya tidak terlepas daripada alam.

Alam mempunyai kedudukan dan pengaruh penting dalam adat Minangkabau, ternyata dari fatwa adat sendiri yang menyatakan bahwa alam hendaklah dijadikan guru.

Yang dimaksud dengan adat nan sabana adat adalah yang tidak lapuak karena hujan dan tak lekang karena panas biasanya disebut cupak usali, yaitu ketentuan-ketentuan alam atau hukum alam, atau kebenarannya yang datang dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu adat Minangkabau falsafahnya berdasarkan kepada ketentuan-ketentuan dalam alam, maka adat Minangkabau itu akan tetap ada selama alam ini ada.

5. Pandangan Terhadap Sesama

Dalam hidup bermasyarakat, orang Minangkabau menjunjung tinggi nilai egaliter atau kebersamaan. Nilai ini menyatakan mereka dengan ungkapan "Duduak samo randah, tagak samo tinggi".

Dalam kegiatan yang menyangkut kepentingan umum sifat komunal dan kolektif mereka sangat menonjol. Mereka sangat menjunjung tinggi musyawarah dan mufakat. Hasil mufakat merupakan otoritas yang tertinggi.

Kekuasaan yang tertinggi menurut orang Minangkabau bersifat abstrak, yaitu nan bana (kebenaran). Kebenaran itu harus dicari melalui musyawarah yang dibimbing oleh alur, patut dan mungkin. Penggunaan akal sehat diperlukan oleh orang Minangkabau dan sangat menilai tinggi manusia yang menggunakan akal. Nilai-nilai yang dibawa Islam mengutamakan akal bagi orang muslim, dan Islam melengkapi penggunaan akal dengan bimbingan iman. Dengan sumber nilai yang bersifat manusiawi disempurnakan dengan nilai yang diturunkan dalam wahyu, lebih menyempurnakan kehidupan bermasyarakat orang Minangkabau.

Menurut adat pandangan terhadap seorang diri pribadi terhadap yang lainnya hendaklah sama walaupun seseorang itu mempunyai fungsi dan peranan yang saling berbeda. Walaupun berbeda saling dibutuhkan dan saling membutuhkan sehingga terdapat kebersamaan. Dikatakan dalam mamangan adat "Nan buto pahambuih lasuang, nan pakak palapeh badie, nan lumpuah paunyi rumah, nan kuek pambaok baban, nan binguang kadisuruah-suruah, nan cadiak lawan barundiang. Hanya fungsi dan peranan seseorang itu berbeda dengan yang lain, tetapi sebagai manusia setiap orang itu hendaklah dihargai karena semuanya saling isi mengisi. Saling menghargai agar terdapat keharmonisan dalam pergaulan, adat menggariskan "nan tuo dihormati, samo gadang baok bakawan, nan ketek disayangi". Kedatangan agama Islam konsep pandangan terhadap sesama dipertegas lagi.

Nilai egaliter yang dijunjung tinggi oleh orang Minangkabau mendorong mereka untuk mempunyai harga diri yang tinggi. Nilai kolektif yang didasarkan pada struktur sosial matrilinial yang menekankan tanggungjawab yang luas seperti dari kaum sampai kemasyarakatan nagari, menyebabkan seseorang merasa malu kalau tidak berhasil menyumbangkan sesuatu kepada kerabat dan masyarakat nagarinya. Interaksi antara harga diri dan tuntutan sosial ini telah menyebabkan orang Minangkabau untuk selalu bersifat dinamis.

 (Sumber : Adat Minangkabau - Sejarah & Budaya)

Perdebatan ISLAM dan ADAT MINANGKABAU

PERBEDAAN ISLAM DAN ADAT MINANGKABAU

Perbedaan dan pertentangan Adat Minangkabau dengan Ajaran Islam, sangat jelas dan tidak bisa pungkiri dengan berbagai alasan serta dalih apapun.

Perbedaannya adalah Cara Menarik garis keturunan yang berdampakkan pada Perkawinan dan Pewarisan.

Menurut Ajaran Islam :

Garis keturunan diambil dari jalur Ayah, dalam ilmu sosiologi disebut Patrilineal, hal ini dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan bersuku Quraisy yang diambil dari panggilan kakeknya yang bernama Fihr.

Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abdullah bin Abbas, Rasulullah saw bersabda :

"Aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qusay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr (Quraisy) bin Malik (bin An-Nadhir) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ah bin Adnan."

Dan Rasulullah SAW, melarang menyambungkan/menisbatkan keturunannya kepada selain ayahnya, apalagi kepada ibunya.

Dari Abui Dzar al-Ghifari, Rasulullah saw bersabda : "Tidaklah seorang mengaku bernasab kepada lelaki yang bukan ayahnya, sedangkan ia mengetahuinya maka ia adalah seorang kafir, dan siapa yang mengaku bernasab kepada suatu kaum yang bukan kaumnya, maka bersiaplah untuk mengambil tempat duduknya di neraka."

Pengertian Hadits diatas adalah :

-Dalam hadist ini jelas dilarang menasabkan anak selain kepada bapaknya (kecuali anak zina di nasabkan ke ibunya)
-Dalam hadist ini jelas dilarang menasab kaum atau suku anak selain kepada kaum dan suku bapaknya.
-Dalam hadist ini jelas, bahwa siapa yg melanggar itu maka hendaklah ia menepatkan diri di Api neraka.

Menurut Adat Minangkabau :

Garis keturunan diambil dari jalur Ibu, dalam ilmu sosiologi disebut Matrilineal, hal ini sama dengan peradaban suku primitif kubu dan dibelahan dunia lainnya dan termasuk bangsa yahudi.

Dengan alasan untuk menghormati Ibu, karena Ibu paling berjasa dalam melahirkan dan membesarkan anak.

Menurut Fatwa MUI no.11 tahun 2012, Tentang KEDUDUKAN ANAK HASIL ZINA DAN PERLAKUAN TERHADAPNYA

MEMUTUSKAN MENETAPKAN :
FATWA TENTANG ANAK HASIL ZINA DAN PERLAKUAN TERHADAPNYA

Ketentuan Hukum
1. Anak hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab, wali nikah, waris, dan nafaqah dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya.
2. Anak hasil zina hanya mempunyai hubungan nasab, waris, dan nafaqah dengan ibunya dan keluarga ibunya.
3. Anak hasil zina tidak menanggung dosa perzinaan yang dilakukan oleh orang yang mengakibatkan kelahirannya.

KESIMPULAN :

Dengan adanya perbedaan ini, sudah saatnya urang Minangkabau, untuk merubah tatanan peradaban yang Islami, dengan mewujudkan ABS SBK.

Semoga tulisan ini dapat bermanfaat..
Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · 31 Agustus pukul 17:38

  • 6 orang menyukai ini.
  • Aby Zamri C7. Iko namonyo, tendangan Pinalti 12 PAS, kiper dak ado pulo nampaknyo. Gool, pak Ustad Yamin. Lanjut !!!
  • Sandy Doank maap pk ustad,saya kurang setuju,kalau garis keturunan ini salah knapa tidak dr dulu cara ini diubah knapa para syech,ulama,ninik mamak,srta urg cadiak pandai diminang tidak pernah membantahnya,padahal akar rumpun orang minang ini brasal dari smenanjung arab.
  • Aby Zamri Sesudah Perang Padri, Syekh Ahmad Chatib Al-Minangkabawy telah "mengharamkan" ranah minang karena persoalan itu. Jadi memang perjuangan mengislam ranah minang memang belum selesai. Maka kewajiban yang sadar dan peduli di masa kinilah untuk menyempurnakan perubahan. Adat itu, dari jahiliyah ke adat Islamiyah.
  • Renaldi Sikumbang II Alangkah lbh baik bila adat yg basandi sarak,sarak basandi kitabullah ini benar2 merujuk apa yg ada dlm aturan2 Islam.
    Hanyo sajo mngkin agak Liek(sulit) utk sgr disepakati,krn Ninik mamak urang awakko kareh kapalo,dalilnyo: adaik ndak lakang dipaneh n
    dak lapuak dihujan.(Lah mansejajarkan pulo jo Alquran).
    Jawabnyo ciek laii, "lah bantuak itu dari saisuak,sajak marapi sagadang talua itiak".
    Hehee..,yg penting unik,bialah sasek.
  • Renaldi Sikumbang II Sandy doang#pada zaman jahiliyah adat yg dipakai adalah adat jahiliyah yg sdh mrk pakai beratus tahun,mrk sangat fanatik dng adat mrk,dan bahkan diisyaratkan dlm Alquran kalau mrk masyarakat yg"keras kepala" .Lalu masuk Islam yg disyiarkan oleh Nabi Muhamad SAW,,berawal dng pertentangan..Alhamdullillah mrk akhirnya menyingkirkan adat jahiliyahnya dan mengikuti yg susuai dng Islam.

    Apakah kt lbh keras kepala dr masyrakat jahilliyah?.Yg mempertahankan sesuatu yg tdk sesuai dng risalah Islam.

    Kalau masyarakt jahilliyah itu memakai pola pikir spt Sandy mngkin Islam tdk akan berkembang spt skrng.
  • Sandy Doank renaldi@ cubo beko malam sanak kumpuan kluarga ninikmamak jo urang kampuang,cubo kamukoan pandapek sanak ko. atau tamui ketua KAN
  • Dasman Datuak Assalamu'alaikum bpk ustaz Mhd Yamin Al Iman...
    Terlebih dahulu say mohon maaf bila komont say kurang berkenan..Saya kurang setuju bila dikatakan Adat MK bertentangan dgn Islam... Jalas2 ABS SBK....Adat MK tidak mengingkari garis keturunan menurut Isl
    am...malah itu dikatakan bertali darah...garis keturunan menurut adat pelaksanaannya menurut sya itu tidak ada yg bertentangan dgn Islam, kalau boleh sy tau dalam hal apa yg menurut ustad yg bertentangan dgn Islam... Jd menurut sy..sebelum ustad menvonis Adat MK bertentangan dgn Islam tolong ustad pelajari lebih dulu tntang Adat MK secara mendalam sebagaimana ustad mempelajari Ilmu agama ini... Dlm adat MK ada yg tersurat ada yg tersirat..kalau kita memandang secara kulitnya saja itu akan menyesakan kita ntuk memahami adat, tak obahnya belajar agama kan ustad....didalami, dipahami dan diamalkan,klu boleh sy mengusulkan saya anjurkan ustad berkonsultasi dulu dgn para pakar Adat Mk...nanti segala sesuatunya bisa dikaitkan dengan dalil Naqli dan Aqli nya..... Makasih pak ustad sekali lagi mohon maaf....
  • Muhammad Yamin Al Iman http://niadilova.blogdetik.com/index.php/archives/292
    niadilova.blogdetik.com
    Jeffrey Hadler, Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism (Ithaca and London: Cornell University Press, 2008. xii, [i], 211 halaman.
  • Sandy Doank waalaikumsalam pak dasman datuak@.. mungkin pak datuak batua,kita ndk bisa sambarangan sajo marubah adaik nan lah ta tata dk nan tuo kito dulu sabab itu lah dibao sjak dri urang partamo mainjak kan kaki di tanah minang ko,sabab adaik kito lah basandi jo syarak,syarak basandi kitabullah
  • Rowry Listanova ambo satuju samo pak datuak, kito ndak buliah terlalu cpek mamvonis adat mk ko brtntangan jo islam, ustad yamin mangecek matrilineal di MINANG brtntangn dlm hal perkawinan dan pewarisan. manuruik ambo indak ustad, yang brdsarkan keturunan ibu itu cuman suku dan pewarisan harato pusako,, bukan harato pencarian bapak,
    satu lagi masalah hadist yang ustad kemukakan mohon di fahami lagi makna kandungan di dalamnya,,. trima kasih.
  • Afnorizal Abukasim Apo bana nan tasurek jo nan tasirek ko. Cibo lah curai papahan disiko. Jan kato tasirek ko hanyo elah dari ketidak tahuan.
  • Dasman Datuak Kalau manuruik ambo sdr Sandy doang...Adaik Minangkolah yg selaras dgn Agama.. Memang dahulunya sblum islam msk ke MK .. Adat basandi alua, alua basandi patuik, patuik basandi mungkin, mungkin basandi kabanaran, kabanran basandi kamufakat, kato baiyo...setelah islam masuk dan wktu perang padri mako dikukuhkan lah Adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah... Sarak mangato adat mamakai....kemudian adat ini ada 4 bagiannya... Kalau masalah keturunan menurut sarak atau Islam itu keturunan Bertali darah namanya di MK segala sesuatunya diatur oleh hukum2 agama,..adat pun mengakui dan memakai, keturunan menurut adat itu sepanjang hukum adat yg tidak bertentangan dgn Islam,diatur menurut adat bersandikan sarak dan kitabullah.. Jdi jgan disimpulkan dulu sebelum mendalami tentang adat.. Apalagi kita di MK, ado kato tasurek dan kato tasurek, ado kato mandaki, mandata, manurun jo malereng.. Tau jo adat tau jo nan 4, tau kieh, ado raso ado pareso.. Mungkin....ado bagian2 tertentu tentang plaksanaan adat yg perlu pembenahan dan penyempurnaan agar semakin nyat ABS SBK nya.. Oke....mhon maaf atas segala koment dan kekurangan saya..
  • Rowry Listanova jadi alun pak abu telusuri laih nan tasirek jo tasurek t? lah mangklaim salah jo sakali .. ba tanyo rancak ka nan tau, baraja rancak ka nan pandai... naknyo salamaik samparono,.. karajo tu tagantuang jo niat kan pak abu. jadi kalau lay ba niat kito mambao ka nan elok mari kito telusuri pulo adat ko sacaro kaffah (menyeluruh) pulo nak tantu jalan kaluanyo.
  • Dasman Datuak Alangkah Indahnya Bila tokoh2 Agama orang Minang kabau ini juga mendalami tentang Adat MK. Buka tambo asli minang, gali dan gali tentang adat Mk yg ABS SBK ini.,,kalau ada yg bertentangan dgn islam atau terlihat bertentangan dgn islam, yok...para pakar adat pemuka adat dan para tokoh agama duduk bersama ntuk sama2 membenahi, agar kita2 yg awam ini dan anak kemenakan kita nanti..tidak salah dalam mengartikan dan memakaikan adat MK yg sama2 kita cintai ini.... mudah2an harapan saya ini di kabulkn Allah SWT, Aamiin...
  • Dabro Bakato Cinto Amiin Ya Allah, Mak Dasman Datuak... Karano kabarsamaan tu labiah indah jiko wak samo-samo balapang dado dalam manyalasaikan dilema sosial nan tajadi di tangah-tangah awak... Mudah-mudahan Minangkabau jo ABS-SBK ko bisa tampil di galanggang paradaban manusia sabagai panabur rahmat, bukan prahara...
  • Dasman Datuak Itulah kato yg sabananyo sanak Dabro...lai sarangkai bak labu satali bak papeh kito mah..hahaa mudah2an terwujudlah raso kebersamaan nan indahko handaknyo..
  • Afnorizal Abukasim Cibolah tarangan, apo bana nan tasirek tu. Bia jaleh. Jan kato tasirek tu hanyo dijadikan elah untuak manutupi ketidak tahuan dgn caro baduto. Nak mandanga pulo lah awak.
  • Afnorizal Abukasim Dan lagian, apo yo ado nan dikatokan Adat Minangkabau ko. Cibolah tarangan.
  • Rowry Listanova ado lah, kan lah di sampaian dek mak datuak tadi mah, nak tau d adat di bukak tambo, nak tau d syara' di bukak Alquran, di situ ka ba suo kabanarannyo. bukan melontarkan pertanyaan nan memojokan. samo kito cari kebenarannyo , mudah2an perbincngan kita diridhoi-Nya.
  • Afnorizal Abukasim Dari data nan ado, ado sabanyak 274 versi Tambo. Nan mano nan batua ? Kok yo ado nan dikatokan Adat Mk ko, apo namo institusi Adat Mk nyo nan jadi Pusek Jelonyo ?
  • Afnorizal Abukasim Apokoh ado dalam katantuan Adat Mk ko nan manyatokan mamakai garih katurunan padusi ? Jikok ado, tolong paparkan mamangan adatnyo, nak di indang batampi tareh.
  • Aby Zamri apakah perlu ada aturan atau adat lain, selain aturan Islam. sementara Islam telah mengatur semuanya dan segalanya ?
  • Damril Sikumbang Apo ado di MK ko si buyuang bin upiak,,si upiak binti suma,,,,suma binti mariana dan sataruih nyo,,,,kl ado berarti kito urang minang batali darah kainduak atau banasab ka ibu,,,,
  • Muhammad Yamin Al Iman Seharus adat MK, konsisten dan konsekwen dengan adatnya, yang mengambil garis keturunan padusi. Sebenarnya sudah anda contohkan dalam diri anda bahwa anda mwnunjukkan diri, dari garis keturunan padusi, hanya anda kurang sadsr. Sikumbang adalah diambil dari garis keturunan padusi.... Damril Sikumbang
  • Damril Sikumbang Pak yamin saya pakae nama suku cm d fb,,,,bukan dari garis keturunan,,,,alasan sy pake nama suku smg saudara" sy yg telah lama tidak ktmu d dunia nyata mudah"n bs mengenali sy d dunia maya ini,,,,apakah ini jg melanggar dlam bragama,,,,,??
  • Afnorizal Abukasim Sebuah pengakuan yang sempurna.
  • Aby Zamri Orang minang di simpang jalan...
  • Afnorizal Abukasim Hehehe udah lama nggak ketemu saudara se garis keturunan perempuan.
  • Aby Zamri Minangkabau menuju pemurnian adat....
  • Afnorizal Abukasim Lucu saja melihat komen dimana disatu sisi membantah, dan disisi yang lain membenarkan. Penyakit apakah ini ?
  • Muhammad Yamin Al Iman Penyakit unik itu, pak AA,....hahahaha
  • Aby Zamri Kan pada awalnya tidak semua harus dibantah dan tidak semua harus dibenarkan, adapun setelah dibicarakan, mungkin saja semua dibenarkan atau semua dibantah. Jadi itulah pertanda proses pemikiran yang dinamik. Kecuali orang itu sudah merasa benar, yah tentu semuanya akan disalahkan.
  • Muhammad Yamin Al Iman >> Damril Sikumbang

    Pak yamin saya pakae nama suku cm d fb,,,,bukan dari garis keturunan,,,,alasan sy pake nama suku smg saudara" sy yg telah lama tidak ktmu d dunia nyata mudah"n bs mengenali sy d dunia maya ini,,,,apakah ini jg melanggar dlam bragam
    a,,,,,??
    ===>><<===
    Alasan anda sangat prematuer dan mengada-ada, masak awak jo awak ba kicuah juo atau ba bengkok kuo, bukan anda saja yang memakai suku dibelakang nama dengan suku sikumbang, masih banyak yang lain memakai suku tanjung, chaniago dan koto dll.

    Semua orang Indonesia dan orang minang, tahu bahwa suku itu dari garis keturunan induak-induak/padusi.

    [apakah ini jg melanggar dlam bragama,,,,,??]

    Agama tidak melarang anda untuk memakai suku garis keturunan dari padusi, dan sangat diwajibkan bagi anak di luar nikah.

    Jadi suku dibelakang nama anda, sama saja anda bersorak-sorak atau memproklamirkan (ambil istilah pak AA), sebagai anak dari garis keturunan Padusi.
  • Rais Dt Indokayo saya menyerahkan semua keputusan tentang semua masalah ini kepada ALLAH SWT.
    sebab kalau dilakukan perubahan secara radikal ... mudarat yang akan terjadi akan lebih besar dari mamfaatnya .... itu sudah dipertimbangkan secara arif dan bijaksana oleh ora
    ng2 tua pendahulu saya yang meletakkan pondasi
    ADAT BASANDI SARAK SARAK BASANDI KITABULLAH .... SARAK MANGATO ADAT MAMAKAI.
    bagi saya yang terpenting saat ini adalah
    SAYA TAKKAN PERNAH TERLAHIR KEDUNIA INI TANPA IBU dan BAPAK ku. Bakti yg terbesarku adalah kepada ibu karena sorga ada ditelapak kakiNYA .....
    kalau nanti menyangkut hak waris ... KU dilahirkan kedunia ini tanpa membawa apa2 dan MATI KU nanti juga takkan membawa apa2 hanya KAIN KAFAN, itu pun pemberian orang2 yang orang2 kutinggalkan didunia.
  • Muhammad Yamin Al Iman >> Rais Dt Indokayo

    Tidakkah sudah ada Kitab suci sebagai petunjuk dari Keputusan dari Allah SWT dan Hadits sebagai tuntunan dari Rasulullah SAW.....??

    Apakah belum cukup atau belum sampai...??
  • Renaldi Sikumbang II Maaf ambo awam ttng adat MK tp ingin batanyo.
    Nabi sesuai Hadisnya memakai nama keturunan Bpk dan msh ada pengakuan Suku, "Aku Muhammad bin Abdullah bin Abu Muthalib dari suku Quraisy"
    Andaikan masykt MK sepakat yg dipakai adlh garis keturunan Bpk.
    Pertanyaannya bagaimana utk mendapatkan garis keturunan Suku.
  • Dabro Bakato Cinto Batua itu Mamak Muhammad Yamin... ambo sangat sami'na wa tha'na (kami dengar dan kami taati)... Masalahnyo kiniko, ba'a caronyo jiko al-Qur'an dan tuntunan Rasulullah SAW tu agar bisa tarealisasi dengan nyato sabagai aturan hiduik dan kahidupan manusia di Minangkabau ko... Jiko ideologi pancasila dengan UUD 45 nyo (undang-undang nan dibuek jo dasar logika dan hawa nafsu manusia nan serba tabateh) tu punyo mekanisme dan garis-garis gadang sabagai haluan dalam panarapannyo, apokah awakpun alah mamanuhi standar dan mamiliki mekanisme untuak itu manyusun sadonyo itu, dari masalah nan basifat individu, mancakupi masalah nasab ba nasab koa, sampai kamasalah ipolesosbud hankamnyo tu... Sahinggo ABS-SBK ko indak hanyo sabateh debat kosong buah bibia se, tapi batua-batua manghujam dan mambumi ka tangah-tangah masyarakat Minangkabau... Ikolah nan sabananyo nan ambo inginkan sabagai nak rang mudo bagian dari masyarakat Minangkabau ko Mak... Tabantuaknyo sistem dari wujud panerapan falsafah ABS-SKB di ranah Minang....
  • Afnorizal Abukasim Sistem Adat tu bana nan lah di kencongkan. Makonyo perbaiki dulu sistemnyo.
  • Renaldi Sikumbang II Maaf ambo awam ttng adat MK tp ingin batanyo.
    Nabi sesuai Hadisnya memakai nama keturunan Bpk dan msh ada pengakuan Suku, "Aku Muhammad bin Abdullah bin Abu Muthalib dari suku Quraisy"
    Andaikan masykt MK sepakat yg dipakai adlh garis keturunan Bpk.
    Pertanyaannya bagaimana utk mendapatkan garis keturunan "Suku dari Bpk"
  • Dabro Bakato Cinto Itu bana Mak Afnorizal... Bak kecek Allah dalam Al-Qur'an di salah satu surek Yaasiin, jauah sabalun teori gravitasi ditamukan oleh bangsa Eropa... "Apakah kamu tidak memperhatikan, bulan dan bintang beredar menurut garis edarnya masing-masing?" Itu makhluk Allah nan gadang baitu taraturnyo mangikuti ayat-ayat Allah nan ado dalam sistem naluri alamiah, ko' awak makhluk nan ketek ko' baitu basarik bana untuak beredar di muko bumi ko, untuak mangikuti ayat-ayat Allah baiak nan ado di alam sakalipun didalam KitabNyo, wak ko manusia nan sombong dan angkuah! Jadi wajar dek tata-caro hiduik wak kiniko di Minangkabau dima ABS-SKB sabagai angok nadi masyarakat Minangkabau ko dek karano indak ado mekanisme sistem nan taratur dalam panarapannyo, wajar-wajar se jiko niniak-mamak wak baredar kalua dari garis edarnyo, alim-ulama dan cadiak-pandainyo (kaum intelektualnyo) wak baitu pulo, apolagi masyarakatnyo... Saliang baradu dan batabrakan, malah bajalan kalua dari garis edarnyo surang-surang. Ramuak digisau dan dicaca jo arus budaya (millah) modrenisasi dari lua... Cadiak juo awak jo nan kecek wak... Mengenaskan bana, Mak... Yo amuah istighfar massal wak dibueknyo...
  • Rais Dt Indokayo Syech Ahmad Khatib Al Minangkabawi ... murid beliau,
    Tuanku Nan Renceh dan kawan2 beliau ... dalam revolusi.

    telah banyak ulama-ulama yang berusaha merobahnya, namun tidak berhasil sama sekali karena sistem ini telah berabad-abad lamanya berakar dala
    m masyarakat adat Minangkabau. Dakwah lisan saja tidak akan mampu merobahnya. Hanya revolusi yang akan bisa melakukannya. Revolusi sosial total. Revolusi sosial ini adalah perang, kekuasaan dan penaklukan.

    Dan revolusi inilah yang telah dilakukan oleh Tuanku nan Renceh dan kawan-kawannya dengan Perang Pederi yang meraka cetus. Revolusi ini terbukti telah menuai hasilnya saat ini dimana telah berobahnya secara frontal cara2 beragama masyarakat adat Minangkabau secara keseluruhan, merata sampai keluar wilayah Minangkabau.

    Revolusi inilah yang telah merobah hukum jahiliyah adat Minangkabau. Revolusi inilah yang telah mengkonver adat jahiliyah lama menjadi adat yang ikut kepada syariat. Dan terkenal dengan nama Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

    Saat ini sistem matrelinial hanya tinggal adatnya saja. Hanya tinggal rasa kekerabatan saja. Hukum warisan dirombak total, Apa yang menjadi harta pribadi seseorang harus diturunkan sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan hartanya yang dulu dia diterima sebagai turunan pusaka kaum bukan menjadi miliknya pribadi (harta titipan yang boleh dipakai tapi tidak boleh dijual seperti sawah, parak, atau rumah gadang peninggalan pusaka kaum) harus diwariskan sesuai ketentuan adat yakni kepada kemenakan.

    = Sistim kekerabatan Matrilineal di Minangkabau adalah sebuah penyimpangan sunatullah ....?
    = Menempatkan garis turunan pada perempuan justru menyebabkan garis turunan itu menjadi rancu .....?
    = Menempatkan garis turunan pada perempuan justru menempatkan garis turunan itu rendah dan hina .....?

    APAKAH harus DENGAN PERANG lagi untuk merobah garis keturunan atau NASAB ....???

    "KU serahkan semuanya kepada MU yaa ALLAH ...."
  • Dabro Bakato Cinto Dek awak alah baredar indak manuruik di sistem garis edar nan alah ditatapkanNyo... Biarlah sejarah hidup kita kedepan kitalah yang menentukan agar kita bisa beredar kembali kepada sistem garis edar yang telah ditetapkanNya... Satukan potensi-potensi nan ado di nagari tu, baru beko wak buek lo sistem awak jo manuruik kabutuhan awak jo salero awak tanpo maninggaka ka'arifan lokal rang wak ABS-SBK...
  • Muhammad Yamin Al Iman >> Dabro Bakato Cinto

    Cinto Batua itu Mamak Muhammad Yamin... ambo sangat sami'na wa tha'na (kami dengar dan kami taati)... Masalahnyo kiniko, ba'a caronyo jiko al-Qur'an dan tuntunan Rasulullah SAW tu agar bisa tarealisasi dengan nyato sabagai aturan
    hiduik dan kahidupan manusia di Minangkabau ko... Jiko ideologi pancasila dengan UUD 45 nyo tu punyo mekanisme dan garis-garis gadang sabagai haluan dalam panarapannyo, apokah awakpun alah mamanuhi standar dan mamiliki mekanisme untuak itu manyusun sadonyo itu, dari masalah nan basifat individu, mancakupi masalah nasab ba nasab koa, sampai kamasalah ipolesosbud hankamnyo tu... Sahinggo ABS-SBK ko indak hanyo sabateh debat kosong buah bibia se, tapi batua-batua manghujam dan mambumi ka tangah-tangah masyarakat Minangkabau... Ikolah nan sabananyo nan ambo inginkan sabagai nak rang mudo bagian dari masyarakat Minangkabau ko Mak...
    ====>><<===

    adat adalah suatu aturan yang tidak tersurat, di langgar indak masuk narako, dikarajoan indak masuk sarugo, karena aturan ini bersumber pada akal (karsa karya) manusia bukan wahyu.

    urang minang pasti beragama Islam, karena adat merupakan tradisi, maka untuk merobahnya dimulai dari diri sendiri dan berkeluarga dan seterusnya ber kelompok, untuk membuang adat dalam mewujudkan ABS SBK.

    Insya Allah, bila kita berketetapan akan hal ini, semoga Allah memberi kemudahan.
  • Aby Zamri kalau nak ingin Islam Kaffah, ambo raso jan dibatasi apokoh inyo urang minang, jawa atau sunda. Tugas dakwah Islam kan lah jaleh, nan mengajak orang ke jalan Allah dengan syariat Islam. antah nyo minang, jawa, atau suku ma selah namonyo. kalau indak namuah managakkan syariat, samantaro inyo mangaku islam, kalau diambo iyo parang nan rancak.
  • Dabro Bakato Cinto Mak Muhammad Yamin Al Iman nan ambo hormati: Nah itu dio, alangkah indahnyo adat nan tersirat tu manjadi tersurat nan basumber kapado al-Qur'an dan Sunnah (tradisi) Nabi SAW sahinggo manjadi mindstream Undang-undang nan real dan jaleh di Ranah Minang ko, sabagaimano Rasulullah SAW alah malukihnyo dalam bantuak tata aturan perundang-undangan hidup dan kahidupan bamasyarakat nan tatuang dalam Piagam Madinah, dalam rangko manjago stabilitas masyarakat di negara Madinah katiko itu nan didiami oleh babarapo komunitas masyarakat; Muslim, Majusi, Arab Baduy, Nashrani dan Yahudi. Nah tanyato Islam mampu menshibghah dan ma'ambiak perannyo dalam stimulasi peradaban manusia katiko itu. Yo harus banyak baraja awak jo Rasulullah SAW dalam manata kahidupan manusia dan masyarakat, banyak tradisi dan satiok perbuatan baliau nan bisa dijadikan disiplin-disiplin kailmuan nan sangat brilian sakali, tarutamo untuak masyarakat di zaman kiniko nan alah ilang kendali.

    Mak Aby Zamri dan Rais Dt Indokayo nan ambo hormati: Dalam manuju Islam Kaffah dan ajaran Islam itu sandiri sabananyo malarang awak untuak saliang batumpah darah awak jo awak. Ko' dapek diindai. Awak indak paralu baparang karano hanyo sabateh sagalo sasuatu problematika nan masih bisa mangusahokan untuak dimusyawarahkan dan dirembukan basamo. Dalam suatu problematika carilah asa panyakiknyo tu, indak mungkin ado akibat jiko indak ado panyababnyo, dan satiok masalah pasti ado jalan nan labiah strategis sabagai solusinyo.
    Tanpo mailangkan raso hormat kapado para pandahulu awak
    Syech Ahmad Khatib Al Minangkabawi sarato Tuanku nan Renceh, itulah tuntutan zaman baliau katiko itu. Tapi kini zaman alah barubah walaupun hakikatnyo tatap samo. Iko zaman awak dan awak haruslah bisa labiah mangarati untuak manyikapi satiok problema nan tajadi di tangah-tangah awak. Awak indak kabaparang awak samo awak, tapi nan musti awak parangi adolah sifat-sifat kabinatangan nan ado didalam diri awak masiang-masiang nan masih labiah mangatangahkan adrenaline parmusuhan. Bukankah mambunuah sifat-sifat kabinatangan didalam diri awak ko adolah marupokan eksistensi didalam perwujudan pasan moral nan takanduang dalam Ibadah Haji? Dan awak indak kabaparang awak samo awak, tapi nan ka awak parangi adolah bantuak-bantuak sistem destruktif, nan disimbolkan dalam tigo bantuak sistem setan nan awak lempa jo batu dalam satiok jumrah. Yaitu sistem berhala matrialisme manna-latta-uzza kontemporer nan ado beredar di zaman wak kiniko. Apokoh awak alah mangarati a nan disabuik berhala-berhala di zaman ko dengan sagalo efeknyo didalam kahidupan masyarakat awak? Nan ka awak parangi tu adolah sistem nan alah ma'ancuakan dan maluluh-lantakkan tatanan nilai hidup dan kahidupan di tangah-tangah masyarakat awak. Terlepas inyo dari urang Jawa ataupun Sunda dan lain-lainnyo. Dek awak babicaro Islam di tangah-tangah masyarakat Minangkabau jadi awak pun harus bisa lo bijak dengan sagalo kearifan lokalnyo, bukankah bakdakwah itu harus manggunokan "bahasa kaumnyo" dalam defenisi nan laweh? Bukankah Minangkabau tu jugo marupokan bagian dari diri awak sadonyo? Bukankah parubahan itu sandiri harus di awali dari diri awak juo? Ibda binnafs?... Mari kita semua berpikir sebagai jiwa leadership, karano Allah hanyo akan mamiliah sabagai Khalifah panguaso bumi ko hanyo untuak urang-urang nan bailmu, sakalipun bumi ko alah diwariskan dalam al-Qur'an untuak urang-urang nan bariman, tapi jiko urang-urang nan mangaku bariman tu indak barilmu bumi ko akan tatap jatuah ka tangan-tangan urang-urang nan indak bariman tapi bailmu... Nah ikolah esensi pengangkatan Adam sabagai Khalifah fil ardh nan partamu dalam sijarah etafeta kapamimpinan Risalah Allah nan bakasinambuangan ko sampai akhia zaman beko...
  • Aby Zamri Manuruik ambo kalau indak siap Mati Syahid jan bakato Jihad.!!! Tiap2 kelahiran tentu ado pandarahan. Tiok2 nan BANA ka tagak tantu nan Bathil HANCUR. Hanya dua pilihan ISY KARIMAN aw Mut SYAHIDIN. Kalau alun siap bakorban jan Bakato MANAGAKKAN SYARIAT. Rajin2 se lah wirid di suduik surau sampai surau tu Runtuah dek suara tahlia.
  • Dabro Bakato Cinto Metode doktrin buliah cando itu, Mak... Tapi manuruik ambo tujuan Jihad bukanlah untuak mati, sabab syahid itu sandiri didalam al-Qur'an bamakna hidup dan kahidupan sakalipun rasikonyo harus manampuah jalan-jalan kamatian... Bukankah tujuan manusia hiduik dalam defenisi sijarah Adam untuak bakambang biak baik sacaro kecerdasan intelektualnyo maupun sacaro kecerdasan spiritualnyo? Ikolah nan ambo dapek'i palajaran dari palanta surau tuo nan ambo labiah suko katokan palajaran dari Institut Shuffah. Sarato tujuan Jihad itu sandiri adolah untuak manang sabagai saksi dihadoan Allah agar tacapai cito-cito sabagai panabur rahmatNyo. Dan mati bukanlah tujuan awak, tujuan niat awak hanyolah untuak mancari ridhoNyo sakalipun ujuang-ujuangnyo rasikonyo tatap kamati juo, karano satiok nan ba'angok pasti kamati juo, Mak... Jiko urang tasawuf manyatokan bahwa hiduik dan matinyo hanyo untuak Allah, maaf kato sajo Allah indak mambutuahkan sagalo apopun nan barasa dari makhlukNyo. Tapi sabagai saurang pajuang Islam, nyo akan ingin hiduik di sisi Allah baik di dunia maupun di akhirat... Silahkan Mak Aby Zamri caliak kontek ayat dalam al-Qur'an nan mancaritokan tantang syahid tu sandiri, "sesungguhnya mereka tidak mati tapi mereka itu hidup di sisiKu"
    Apo ado nan salah dari pamahaman ambo ko Mak?
  • Aby Zamri Sorry, Nakan Dabro, mamak bukan ahli teori. Tapi kok nak Parang, mamak lah mulai...
  • Dabro Bakato Cinto Basabalah dulu Mak... Ambo sangat mangarati besik dasar Amak... Iko bukan teori tapi sagalo sasuatu nan harus bisa awak realisasikan, dan sadonyo iko pun marupokan ungkapan raso cinto ambo ka mamak-mamak ambo nan ado di forum ko, ka masyarakat awak, nagari awak bumi Allah dan agamo wakko... Maaf, Mak injan salah sangkolo Amak ka ambo, iko ambo bukan ma'ajai Amak, tapi nan ambo inginkan di forum ko awak babicaro dari hati ka hati dengan raso cinto karanoNyo... Watawal shaubil haq, watawal shaubil shabr, curhat dan shering bahaso rang kininyo... Mudah-mudahan demi sabuah parubahan nan awak cito-citokan basamo ko bisa manjadi pambuka tali silaturrahmi awak dan solidaritas persaudaraan awak...
  • Aby Zamri C7, mantap nakan Dabro. Lanmjuuut !!!
  • Nazwir Syarif Ha ha ha ha ....Asbun ...Lagu lamo ulang tayang ....bosan ah
  • Aby Zamri Minta lagu barunya Uda Nazwir...
Opsi